Tampilkan postingan dengan label Artikel Pesugihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pesugihan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Pelarisan Khusus Usaha Kuliner

Anda pernah menjumpai kedai/rumah makan yang laris manis padahal menu nya tidaklah istimewa,tetapi pengunjungnya berjubel?....




Ini dia ritual instant yang anda butuhkan....Prewangan!.

syarat tidak berat dan langsung bisa merasakan hasilnya dalam kurun waktu kurang dari 40 hari...

Biaya hanya 15 juta, sudah termasuk makan,penginapan, sajen dsb..jadi anda tinggal berangkat dan pulang , usaha kuliner anda siap -siap mengalami peningkatan pesat.....

Jadi jangan ambil resiko buka usaha kuliner tanpa backing gaib ini....usaha kuliner tidak ditentukan hanya lezat tidaknya masakan...tapi backing gaib yang harus diutamakan...bila hanya mengandalkan tempat strategis,masakan enak dan disertai pelarisan biasa,apakah dijamin pasti laris dan langgeng....? belum tentu...biasanya dalam kurun waktu beberapa bulan akan menurun....bisa - bisa modal habis,karena penjualan menurun....

Prewangan anak kecil ini sudah terbukti mendongkarak omzet usaha kuliner anda.....

Hubungi :

Hp 085 869 616 651 (indosat ) 085 290 470 545 ( Telkomsel )

Email : wowonugroho@gmail.com

Rabu, 26 Desember 2012

Part 3 : MENCARI TUYUL

TUYUL
Meski sudah pukul 10:00 pagi rasanya masih malas untuk melakukan aktivitas.Maklum semenjak usahaku bangkrut ditipu teman,dan sekarang hanya kerja serabutan,kerjaanku hanya menunggu orang meminta bantuanku,mungkin antar barang,antar orang ataupun pekerjaan kasar lainnya.

Untung istriku punya usaha warung kecil-kecilan didepan rumah,meski hanya cukup untuk menyambung hidup kami dari hari ke hari dan untuk menghidupi kedua anak kami yang masih kecil – kecil.

Sudah jadi kebiasaanku setelah bangun ,aku langsung ke warung istriku untuk sarapan atau sekedar minum kopi sambil ngobrol – ngobrol dengan istriku atau pun pelanggan warung.Yah daripada di kamar terus pasti membosankan.

“Mas tadi mbah Sadana mampir ,katanya mas Marno  suruh kesana,penting katanya,”kata istriku sambil membawakan secangkir kopi panas kearahku.

“Oya,nanti sehabis mandi aku langsung kesana,jawabku sambil bersiap siap sarapan nasi rames dan tempe kesukaanku.
”Lumayan ada pekerjaan untuk hari ini,”pikirku

Mbah Sadana adalah tetanggaku,jaraknya hanya 100an meter dari tempat tinggalku.Beliau dikenal sebagai orang pintar dikampungku, khusunya bagi orang yang ingin usahanya laris ataupun yang ingin berhubungan dengan hal–hal  gaib. Orangnya dermawan dan cukup disegani dikampungku.
Seringkali dirumah beliau ada pertunjukan wayang kulit ataupun kesenian lainnya.Kami warga sekitar sudah mahfum,berarti ada tamu mbah sadana yang sedang syukuran.Imbasnya tentu saja ke warungku,jadi semakin ramai kalau sedang ada hajatan dirumah mbah Sadana.

Kalau menyangkut hal-hal gaib pasti selalu beliau yang dimintai tolong oleh warga,baik warga sekitar maupun yang datang dari jauh,begitu juga bila menyangkut hari – hari baik bagi orang yang ingin menggelar hajatan,pasti beliau yang dimintai tolong.Istilahnya,pakar ilmu kejawen.

Umur beliau mungkin 80an tahun,dengan perawakan gagah,cukup tinggi besar dan rambut yang telah memutih semua yang menambah kewibawaan beliau.Meskipun sudah sepuh,beliau tidak dikaruniai putra,jadi beliau hidup hanya bersama istrinya yang sama – sama sudah sepuh dan kedua pembantunya.
Rumahnya cukup bagus untuk ukuran dikampungku,karena waktu itu masih jarang orang punya rumah bertingkat.Biasanya loteng digunakan untuk tamu-tamu beliau yang menginap.

Meskipun hidup berkecukupan,laiknya orang desa,beliau masih menggarap ladang dan hewan ternak.Selera rokok pun demikian,meski para tamu silih berganti memberi aneka macam rokok,beliau tetap meracik sendiri tembakau kemenyan dan tak lupa sedikit cengkeh.
Artinya meskipun beliau kaya tapi tetap ndeso alias jadul,begitu menurut orang sekarang bilang.

Selesai mandi dan sarapan aku bergegas kerumah mbah Sadana.Dari jauh kulihat ada mobil parkir didepan rumah beliau,setelah kudekati ternyata masih agak baru,plat Ibukota.

“Wah ada tamu jauh,mungkin aku disuruh jadi guide’”pikirku menebak

“Kulo nuwun mbah,”kataku takzim sambil memasuki ruang tamu

“Iya,masuk aja le,kenalkan ini ada tamu dari Klaten,pak Juwono namanya,”kata simbah mempersilahkanku.

Kulihat tamu simbah ini berumur 40an tahun,berperawakan agak gemuk,perut buncit dan berkulit agak hitam.

“Tolong le nanti nak Juwono kamu ajak 
putar- putar biar hapal wilayah sini,dia pingin ritual disini untuk beberapa hari kedepan’”kata mbah Sadana mempersilakanku.

“Siap mbah nanti saya antar ke pantai dan gua gua yang ada disekitar sini,”kataku langsung berpromosi.” 

Saya kira pak Juwono datang dari Ibukota,ternyata Klaten to pak’”? kataku sambil menjabat tangannya” 

Dulu beli mobilnya di Ibukota pak Juwono?’tanyaku berbasa basi

“O,nggak kok mas”jawab pak Juwono gugup.

“He- he itu mobilku kok le,kemarin sore pak Marwan tamuku dulu yang dari Jakarta yang memberikan padaku,katanya sebagai tanda terima kasih ritualnya sudah menetas,sekarang dia sukses dan kemarin kesini bersama sopirnya datang khusus cuma buat nganter mobil itu,kata mbah Sadana terkekeh.

”Coba kamu lihat itu dimeja,kunci mobil sekalian BPKBnya kamu cek,”kata mbah sadana menjawab keherananku,karena menurutku kok ada orang yang bisa bisanya memberi mobil dengan gratis,meskipun bekas sih,tapi kutaksir lebih 100 jutaan harganya.Terus sesukses apa sih ritualnya kok sampai ngasih mobil,pikirku keheranan.

Seolah mengerti isi hatiku mbah Sadana menyela,
”Udah sana le,kamu cek mobilnya,nanti kamu minta duit sama mbah putri dibelakang untuk beli bensin.Apa kamu mau aku nikahkan dengan ibu Rastri,biar kaya seperti pak Marwan?’tanya mbah Sadana terkekeh

‘Iya,eh ngga ding mbah,”jawabku tergagap karena kaget simbah ternyata tahu isi hatiku.

“Siapa itu bu Rastri mbah? Saya juga mau dinikahan,biar saya juga kaya,”kata pak Juwono bersemangat.

“Ibu Rastri adalah mahluk halus penguasa Juranggrenjeng,apa nak Juwono sanggup melakukan ritualnya? ,”tanya mbah sadana

“Bagaimana caranya mbah?”Pak Juwono mulai penasaran

“Tidak semudah yang dibayangkan nak,disamping godaanya berat, apa nak Juwono sanggup apabila sewaktu waktu salah satu sanak saudara nak Juwono diminta Ibu Rastri?,’tanya mbah Sadana

“Eit,ya saya pikir – pikir dulu mbah,saya masih harus konsultasi dengan istri saya dulu,”kata pak Juwono gugup

“Setiap orang sudah ada jalannya masing -  masing,meski nak Juwono mempunyai tekadpun kalau alam gaib belum menerima,tetap saja tekad itu percuma,”kata mbah Sadana sambil mulai meracik tembakau kesukaannya.

“Terus saya harus bagaimana mbah,saya sudah terlanjur pamit kepada istri,tidak akan pulang kalau tidak membawa hasil.Saya ingin kaya mbah,apa ada cara lain yang tidak membutuhkan tumbal?’”kata pak Juwono berharap cemas, karena dia telah menjual sebagian tanah warisan almarhum orang tuanya untuk tujuan ritual ini.

“Bagimana mbah,bisa tidak saya ikut ritual?,”ujar pak Juwono mendesak

“Nak Juwono dari terawangan mbah, kamu itu punya dasar balung sugih,tapi apa kamu sanggup memelihara mahluk gaib untuk kamu openi,yang harus kamu rawat setiap hari,tidak cukup sehari dua hari,tapi tiap hari  selama kamu membutuhkannya,kamu harus merawatnya seperti kamu merawat dirimu sendiri, karena nantinya dia adalah belahan jiwamu.apa yang dia rasakan kamu juga merasakan begitu sebaliknya’”kata mbah Sadana sambil menghisap rokoknya dalam dalam

“Maksud mbah Tuyul? Iya mbah saya sanggup,”jawab pak Juwono bersemangat seolah olah sudah sangat yakin bahwa kesuksesan akan menghampirinya.

‘”Belum tentu sebangsa tuyul nak Juwono,mbah hanya membukakan jalan saja,takdir nak Juwono sendiri lah nanti yang akan menuntun,karena bangsa tuyul pun bermacam macam,sama seperti kambing dan domba,satu keluarga tapi beda jenis kan,begitu juga dengan tuyul orang menganggapnya sama padahal banyak sekali macamnya,nanti nak Juwono sendiri yang membuktikannya”

Aku yang baru dari dapur membawa makanan dari mbah putri ikut mendengar cerita itu ikut terkesima,karena baru kali ini mendengar tentang mahluk gaib ternyata banyak jenisnya,bahkan tuyul pun ternyata banyak jenisnya.

Setelah menyajikan camilan tambahan dari 
mbah putri akupun ikut langsung  nimbrung ingin mendengar lebih banyak lagi tentang alam gaib.

“Mbah apa benar kalau kita pelihara tuyul, istri kita harus neteki si tuyul? ,”Tanyaku sambil meletakan nampan berisi camilan untuk dihidangkan.

“Ha-ha –ha, masak mahluk gaib minta disusui manusia? Setahu mbah tidak begitu,mungkin tuyul jenis lain,setahu mbah tuyul kalau minta susu cukup dikasih air tajin,itu saja,bukan susu dalam arti sebenarnya’,”kata mbah Sadana sambil mencomot camilan yang disediakan.

Dari obrolan yang hampir seharian itu aku dapat sedikit mengerti tentang tuyul.ternyata tidak semua orang berbakat untuk mempunyai peliharaan mahluk halus,karena tuyul mau ikut pun mempertimbangkan si pemelihara,tidak asal ada uang ada barang,banyak sekali faktornya termasuk weton si pelaku dsb, karena orang memelihara mahluk gaib ternyata adalah orang yang telaten.

Bayangkan saja, untuk memelihara tuyul tiap sore sesaji berupa minuman panas ( wedangan dlm bhs jawa) harus selalu ada sebelum sore,tiap hari ,dan tak boleh terlupa.Oleh sebab itu biasanya tuyul selalu menanyakan ada ngga ibu dirumah,karena kalau pemelihara lupa sesaji diharapkan pasangannya/isterinya yang menyiapakan.

Jadi full tiap hari dikamar khusus tidak boleh lupa.
Bagaimana kalau keduanya sama sama lupa? Tentu saja tuyul bisa ngambek tidak mau diperintah untuk mencari rejeki.ya kalau ngambeknya sehari,kalau sebulan atau malah lebih? Oleh sebab itu tidak semua orang mau pelihara tuyul kalau tidak mau repot.

Bagaimana dengan makanannya? meski tidak setiap hari hanya ketika sehabis mencarikan rejeki saja,tapi kadangpun cukup merepotkan,ya kalau minta makan hal yang wajar sih mudah,semisal jajan pasar atau lainnya tapi kalau mintanya agak sulit dan tengah malam bagaimana? 

Ya itulah resikonya,tetap harus dicarikan meski tengah malam sekalipun.Begitu juga dengan kemunculannya,apakah tiap hari 24 jam mengikuti kita? 

Ternyata tidak,kadang muncul kadang juga tidak.Kadang tahu -tahu muncul ikut duduk disamping kita ikut nonton tv,meski hanya kita yang bisa melihat,atau kadang meski kita panggil saat kita membutuhkan,malah ngga muncul.
Jadi tidak bisa ditebak.Meski kita sudah bermeditasi berjam jam ritual untuk memanggil, kalau lagi tidak mau muncul ya tetap tidak muncul.

Mungkin dalam meditasi yang kita jumpai hanya anak kecil yang sedang tidur,tapi kita tidak bisa membangunkan.Ibaratnya sama seperti kita memelihara anak penderita autis berat,karena sekali tertuju pada suatu hal,berjam jam dia hanya fokus pada satu hal ,jadi percuma saja kita bujuk.Tetapi apabila sedang rajin,dia tak habis habis nya mencari rejeki untuk kita.

Oleh sebab itu pemelihara harus pandai pandai mencuri hati si tuyul agar kerasan dan rajin bekerja.

untuk komunikasi pun ternyata tidak semudah yang dibayangkan.Kita harus belajar bernafas panjang.Oleh sebab itu pelaku biasanya selama 40 hari supaya berlatih menahan nafas dengan jalan mendirikan keris kecil.

Biasanya oleh mbah Sadana diberi cundrik/keris kecil yang harus dilatih setiap hari.Kalau baru belajar biasnya cundrik akan berdiri tapi karena sudah kehabisan nafas cundrik akan roboh kembali.

Kalau pernafasan pelaku sudah sempurna,bisa minimal tahan nafas minimal 3 menit,cundrik akan tetap berdiri meski sudah bernafas biasa.

“Mbah kami berangkat dulu beli uborampe sekalian nyoba mobilnya,”kataku berpamitan

“Iya le, hati hati dijalan,jangan sampai  kelupaan membawa catatan uborampenya,jangan sampai ada yang kurang”

Kami berdua langsung menuju kota  yang jaraknya kira kira 5 km dari tempatku.

“Pak ambil uang sekarang kan bisa lewat ATM kenapa harus ke Banknya,”tanyaku mengawali pembicaraan.

“Limit ATM kan terbatas dik,paling ngga saya harus mengambil 23 jutaan,yang 22,5 untuk ritual,yang 500ribu utuk peganganku sendiri”jawab pak Juwono sambil tengok kanan kiri melihat pemandangan sepanjang perjalanan jalan yang kami lalui

“lho kok banyak banget,untuk apa aja pak,”tanyaku keheranan

Karena aku baru tahu,untuk mengambil mahluk gaib ternyata butuh modal yang besar,dan itu pun tidak semua orang berhasil,perinciannya 500ribu digunakan untuk jamasan dan selamatan pembukaan alam gaib.

Setelah bisa melihat alam  gaib dan ada mahluk gaib yang mau diajak ikut ,baru tahap selanjutnya.

Tetapi meski sudah bisa melihat alam gaib ternyata tidak ada satupun mahluk halus yang mau ikut maka ritual tidak diteruskan,jadi sama saja kehilangan 500 ribu.yang 22 juta utuh.

Tetapi bila ada yang mau ikut,ritual selanjutnya mohon restu kepada penguasa gaib dimana pelaku mendapatkan mahluk halus tsb. 

Semisal kita melarung 2 juta,maka nantinya mahluk gaib tsb akan membawa 2juta 1 x angkut.tergantung seberapa sering dia mau bolak balik.Kalau dalam sehari mahluk gaib tsb mau bolak balik 10 x maka dalam sehari pelaku mendapat 20 juta,tetapi mbah Sadana biasanya membatasi untuk larungan maksimal 2 juta,karena kasihan mahluk gaibnya apabila terlalu berat bebannya.

Ritual terakhir adalah yang paling mahal.Setelah larungan yaitu meminta ijin kepada penguasa gaib telah purna mbah Sadana beserta pelaku memboyong mahluk gaib tsb kerumah pelaku.Setelah diberi pagaran gaib dan dinilai sudah krasan biasanya mahluk gaib sudah mulai bekerja,tetapi waktunya tidak bisa ditentukan,tergantung pelaku memperlakukan mahluk gaib tersebut.Semakin cepat kerasan semakin cepat cari rejekinya.

Apabila sudah bisa mencari rejeki untuk pelaku ritual,baru sisa yang 20 juta yang dipakai.Setelah pelaku mendapat rejeki yang pertama,pelaku harus cepat cepat ketempat mbah Sadana.Ditempat mbah Sadana ini dilakukan ritual sekali lagi,mbah Sadana akan berkomunikasi dengan penguasa gaib,bahwa salah satu anak buahnya sudah melakukan tugas dengan baik dan sekarang sudah diadopsi sebagai anak/istri pelaku.Oleh sebab itu sebagai bebungah,hiburan apa yang dimaui oleh penguasa gaib.Apabila suka wayang kulit misalnya,maka sisa uangnya digunakan untuk pementasan wayang kulit beserta selamatannya.Setelah itu resmilah sang pelaku mempunyai peliharaan untuk seterusnya.

“lho dik Marno kok tidak tahu,kan sampeayan asisten mbah Sadana,” Pak Juwono bingung

“Memang saya bertetangga pak dan memang seringkali ada pementasan wayang kulit atau tayub ditempat mbah,tapi saya kan baru hari ini disuruh jadi guidenya para tamu,istilahnya saya karyawan baru 1 hari ini pak”,kataku terkekeh.

Setelah membeli uborampe lengkap kami bergegas pulang,karena ritual mandi jamas jam 3 ini sudah akan dimulai.Kulihat mbah Sadana sedang mengantar tamu yang sedang berpamitan

“Langsung diserahkan ke mbah putri sana le,biar langsung disiapkan”,kata mbah Sadana melihat kedatanganku

Setelah persiapan jamasan siap,Pak Juwono langsung dimandikan oleh simbah sementara aku dan kedua pembantu simbah menyiapkan selamatan untuk sore nanti.setelah dijamas pak Juwono langsung dipingit di Loteng tidak boleh keluar kamar sampai dipanggil.Dia dalam kamar harus belajar mantra.

Pukul stengah 5 pak Juwono dipanggil ditanya sekali lagi kesungguhan hatinya untuk ritual ini.

“Nak Juwono sudah tahu konsekwensinya?  Mbah hanya penunjuk jalan saja,mbah tidak bisa menjamin ritual 100% berhasil,karena semua tergantung nak Juwono sendiri.Kalau sampai gagal berarti nak Juwono kehilangan waktu dan uang,oleh sebab itu coba dipikir kembali baik buruknya”

“Saya sudah bulat hati mbah,biarlah saya kehilangan uang yang tidak seberapa daripada tidak mencoba samasekali,”kata pak Juwono sambil menyerahkan semua sisa uang yang ada

“Baiklah kalau itu maumu,kamu sudah tahu sendiri perincian biayanya,sebab tadi kamu sendiri yang belanja,sekarang sisa uang itu kamu titipkan ke nak Marno  saja,biar dia yang menyimpannnya,”kata mbah Sadana mantap

Aku yang sedari tadi mendengarkan ikut tergagap,karena agak ngeri juga memegang uang orang lain, karena uang itu harus selalu siap sewaktu  waktu dibutuhkan,karena berurusan dengan alam  gaib tidak bisa diprediksi kapan waktunya,bisa 3 hari 3 bulan atau malah 6 bulan tidak ada yang tahu. Oleh sebab itiu mbah Sadana selalu mensyaratkan agar uang disiapkan dimuka,menjaga jangan sampai mahluk gaib sudah siap bekerja sementara uang terpakai dengan alasan apapun, bisa bisa nyawa pelaku jadi taruhannya.

“Le, aku titipkan uang itu padamu ya,mbah putri sekarang sudah sepuh,sudah malas untuk mengurusi,sekarang kamu yang aku percaya jadi asistenku,”kata mbah Sadana sambil menatapku

“I,Iya mbah terimakasih atas kepercayaannya’”kataku gugup sambil menerima uang 22 juta terebut

“Sekarang nak Juwono pergilah kamu kearah pantai,nanti kamu akan menjumpai mahluk gaib,cobalah berkomunikasi dengan mereka,semakin cepat kamu bisa mengajak salah satu dari mereka,semakin baik.

Kamu kuberi batas 3 hari mulai hari ini,kamu harus sudah bisa mengajak salah satunya.Apabila gagal berarti selamanya kamu tidak bisa.

Jangan sekali kali mandi ataupun cuci muka selama 3 hari ini,jangan pula kamu tidur ditempat berdinding meski dari bambu, tetapi harus ditempat terbuka.Mengerti nak Juwono? 

Sekarang pergilah,takdir yang akan menuntunmu”

“Iya mbah mohon restunya”kata pak Juwono bangkit mencium tangan mbah Sadana untuk memulai pencariannya.

“Oya mbah boleh tidak saya mendapatkan lebih dari satu,’”kata Pak Juwono percaya diri

“Silakan nak,asal kamu mampu merawatnya,”Kata mbah Sadana bijak

Mbah sadana kemudian langsung menyiapkan uborampe yang dibeli dan masuk kamar untuk memohon kepada Tuhan YME agar apa yang menjadi tujuan dapat terkabul,sekaligus bermeditasi memonitor Pak Juwono.

Sebelum masuk kamar beliau menghampiriku,
”Oya le, tadi mbah dapat hadiah telpon dari pak Wisnu katanya itu telpon harus dibeliin nomor,coba kamu beli sana,ini uangnya”

Setelah aku lihat Hp merk Siemens C25 
sejaman dengan Nokia 3310,masih baru cuma belum ada nomornya.Langsung aku berangkat ke kota. 

Waktu itu kartu perdana harganya masih mahal,350 ribu dengan pulsa 100 ribu. 

Waktu itu belum ada pulsa 50 ribu apalagi 10 ribu seperti sekarang.Nomornya pun masih 11 digit.Sampai sekarangpun nomornya masih dipertahankan.

Sedang asik asiknya belajar HP baru,pintu diketuk dengan keras dari luar.

“Mbah, mbah, bukain ini Juwono mbah”

Begitu kubuka kulihat pak Juwono langsung merengsek masuk,nafasnya ngos ngosan.raut mukanya pucat pasi.

“Sabar pak ada apa,ngomong yang pelan,”ujarku menenangkan

“Simbah mana,simbah mana,masih ada yang ngikutin ngga ya?,” Kata pak Juwono blingasatan

“Mbah lagi bermeditasi,ada apa sih pak?’

“Tadi begitu buka pintu rumah ini sampai di pantai aku lihat banyak sekali orang,kukira manusia biasa,tapi setelah kulihat kok orangnya aneh aneh,kalau manusia kok antar mata dsb tidak sejajar,ada pula manusia yang berkulit sangat putih tapi kepalanya menyerupai babi,ada juga yang badannya kurus pendek tapi kepalanya besar sekali.
Lah itu tadi yang tadi membuntutiku,aku mau lari malu,mau teriak juga malu,untung aku cepat cepat jalan kesini,mudah mudahan sudah ngga ngikuti aku lagi” kata Pak Juwono ngos ngosan.

Sebenarnya aku kepingin tertawa terbahak bahak waktu itu,mengingat tubuh pak Juwono yang tambun pasti lucu sekali lihat dia berlari lari dengan ketakutan,apalagi sering kulihat dia sebentar bentar membetulkan celananya yang melorot ketika berjalan,pasti lucu sekali,tapi biar tenang akupun pura pura ikut berempati.

“Tenang pak,ya itu namanya mahluk halus,tidak sempurna seperti kita manusia,jawabku seolah mengerti.

“O begitu ya dik,sampean kan udah pengalaman,saya kan belum” pak Juwono membela diri.

Padahal sebenarnya akupun samasekali belum pernah melihat mahluk halus,wong mandi kemalaman saja aku minta ditemani istriku,apalagi lihat mahluk halus.Hiii ….takut juga..

“Begini dik ,saya minta sampean mau menemani saya selama 3 hari ini,tolonglah dik,saya masih trauma,nanti saya bayar jasa ojek sampean selama menemani.Bensin dan makan saya yang bayar.Saya bayar untuk jasa menemani sehari 200 ribu bagaimana?’

Sebenarnya aku mau meloncat kegirangan  waktu itu,tapi pura pura aku bersikap tenang.

“Ya pak saya temani,cuma mohon maklum saya tidak bisa apa apa cuma bisanya menemani,
bagaimana?

“Ngga apa apa dik, yang penting saya ditemani kemanapun saya pergi,wong sekarang belum malam saja di pantai sudah sebegitu banyak mahluk halus apalagi nanti malam? Kata pak Juwono memelas.

Bagaimana kelanjutan cerita ini,apakah pak Juwono berhasil membawa mahluk gaib?


EPISODE KE 2

Saat malam menjelang aku dan pak Juwono bersiap ke pantai.Cuaca malam itu cukup terang meski bukan bulan purnama.Karena hari itu bukan hari wingit, maka hanya ada beberapa orang saja ditepian pantai.
Disepanjang perjalanan sebentar- sebentar Pak Juwono merapat ke tubuhku.Mungkin takut melihat sesuatu tetapi malu untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Lihat apa pak?,”tanyaku

Ternyata menurut penglihatan pak Juwono disepanjang jalan menuju pantai, banyak sekali mahluk mahluk yang aneh,ada yang seperti manusia tapi berkepala kuda,ada yang berkulit sangat putih disekujur tubuhnya tapi berkepala babi, ada juga yang berperawakan tinggi besar dengan rambut awut awutan,ada juga yang seperti manusia pada umumnya tetapi mukanya tidak simetris.

“Pak kenapa tidak komunikasi saja dengan mereka,mungkin yang berkepala babi itu babi ngepet,kan cari uangnya lebih banyak daripada tuyul,”kataku memberi semangat.

“Ah jangan yang serem serem dik,mending cari yang anak kecil aja atau seperti itu,tuh lihat ngga ada putri cantik.Sebentar ya dik saya kesana ,siapa tahu dia mau ikut denganku’”kata pak Juwono bergegas meninggalkanku.

Akupun duduk dipinggir pantai sambil memperhatikan pak Juwono yang menurut penglihatanku mondar mandir seperti orang stress.Kadang dia seperti jalan engklek,jalan dengan satu kaki seperti orang sedang bermain,kadang dia lari- lari seperti mengejar sesuatu,kadang dia jalan cepat sekali menuju laut.Sebenarnya aku pingin ketawa melihat tingkahnya,tapi daripada aku juga nanti dikira orang stress ,ketawa ketiwi sendiri maka daripada bosan, akupun berjalan di sepanjang pantai sambil mengawasi pak Juwono mondar mandir.

Kulihat beberapa orang sedang melakukan ritual,ada yang bersila menghadap pantai,ada yang dikubur hanya kelihatan kepalanya ditemani mungkin gurunya,ada juga pasangan remaja yang asik duduk berdua.Semua seolah sibuk dengan urusan masing masing.

Setelah hampir 2 jam mondar mandir pak Juwono menghampiriku.

“Edan dik,pantai ramainya begini tak satupun yang menyapaku,boro-boro mau diajak bicara,aku ikuti bahkan tadi aku lari-lari mengejar gadis cantik eh malah dia masuk ketengah laut’”, kata pak Juwono langsung jatuh terduduk disebelahku.

“Ramai gimana pak,wong paling cuma 10 orang termasuk kita kok,”kataku bingung

“lho apa sampeyan ngga lihat seperti hari Lebaran aja,sampai aku mau nabrak nabrak orang begitu,”jawabnya tak mau kalah.

Aku lupa kalau mata batin pak Juwono sudah dibuka,jadi dia bisa melihat sepanjang pantai banyak sekali mahluk mahluk gaib berkeliaran.Ada yang sedang berjalan jalan,ada yang sedang mandi di laut dan banyak anak-anak kecil yang sedang bermain,makanya tadi kulihat pak Juwono kakinya engklek,ternyata dia sedang menirukan anak kecil yang kakinya engklek dengan satu kaki.Rupanya dia meniru gerakan tersebut untuk merayu agar anak tersebut mau berkomunikasi dengan pak Juwono.

Tapi sampai jauh malam tak satupun ada yang mau diajak bicara apalagi mau ikut.
            
“Ayo dik, kita pulang aja,aku udah kelewat cape,kita lanjutkan besok lagi “

“Lho katanya tadi ketemu cewek cantik pak,apa ngga mau diajak pulang?”kataku meledek
            
“Boro – boro,”katanya kesal.
        
Mungkin karena terlalu cape seharian belum istirahat,begitu sampai teras rumahku,pak Juwono langsung terlentang dan mendengkur… 

Akupun langsung masuk rumah dan tidur menyusul istriku yang sudah terlelap dari tadi.

Setelah matahari menyinari badan pak Juwono,dia bangun agak kebingungan.
            
“Dik gimana ya ,rasanya risih sekali pingin cuci muka semaleman kena udara laut, sekarang kepanasan,boleh ngga cuci muka,palingg ngga mataku aja ya ngga apa,”ujarnya sambil mengusap usap mukanya yang kelihatan kusam dan berminyak
            
“Jangan dulu pak,nanti ritualnya percuma saja ,buang buang duit,kalau sampai terkena air nanti bapak udah ngga bisa lihat alam gaib gimana? Mending sekarang bapak ganti baju dan kita ngopi ngopi dulu,”kataku sambil membawakan secangkir kopi panas dan makanan untuk sarapan pagi itu.

“Aduh rasanya risih banget dik,apalagi sampai besok aku ngga boleh kena air,terus kalau sampai besok belum ada yang mau ikut gimana ya?”jawabnya setengah putus asa.

“Sabar pak,kan masih ada hari ini dan besok,”kataku sambil memanaskan motor untuk sarana kami nanti berpetualang.

“Okelah,coba hari ini kita kearah timur sampai kota sebelah,siapa tahu disepanjang perjalanan atau dipasar pasar ada yang mau nyantol ikut aku”

Dengan berboncengan kami berdua menuju kearah kota yang lebih ramai.Di sepanjang perjalanan setiap melewati pohon besar pasti kami berhenti,karena menurutnya disetiap pohon besar pasti ada anak yang sedang bermain main,baik main engklek maupun yang lainnnya.setiap berhenti satu persatu anak yang ada disitu pasti dipegang.Kalau badan atau tanganya dingin seperti es berarti itu mahluk halus,tapi kalau hangat itu manusia biasa.
            
Karena setiap menjumpai anak kecil dibawah pohon pasti dipegang,ada satu cerita menarik yang tidak pernah aku lupakan.
            
Waktu itu begitu melihat ada anak kecil bermain dibawah pohon tanpa basa basi pak Juwono langsung minta berhenti dan langsung memegang tangan anak kecil itu,karena mungkin kaget,anak tersebut meronta ronta memanggil ibunya,untung saja kami tidak dihakimi massa,setelah kami minta maaf cepat cepat kami tancap gas.
            
“Dasar orang edan!,”kata ibu itu saat memaki kami.
            
“Pak lihat-lihat dulu dong,untung aja kita selamat,apa tidak bisa bedain antara manusia dan tuyul?”kataku kesal
            
“Maf, maaf dik,aku juga bingung sih,”kata pak Juwono membela diri.
            
“Lho tuyul kan jelas,mulutnya vertikal,nggak pakai baju,rambutnya gundul,masak begitu aja ngga bisa bedain,kita tadi hampir mati pak,”sungutku kesal.
            
“Kata siapa begitu,itu kan di sinetron,buktinya banyak tuyul yang kutemui mulutnya wajar,rambut wajar tidak semua gundul,malah ada juga yang berpakaian,jadi mana aku tahu kalau itu anak bukan tuyul kalau tidak kupegang,”jawab pak Juwono tak mau kalah.
”Apalagi itu anak sedang bermain sendiri dibawah pohon,mana aku tahu dik?”
            
“Ya udah,lain kali hati-hati pak,”jawabku asal
            
Tuyul ternyata tidak semua gundul,bermulut vertikal,menyusui dsb.

Tuyul yang pak Juwono temui ternyata banyak yang mirip anak anak kita yang berumur 3 tahunan.

Cuma kebanyakan memang hanya bercawat putih seperti memakai diapers.

Rambut dan mulut tak ubahnya manusia biasa,yang membedakan suhu tubuhnya.
            
Sesampai di kota,kami langsung menuju pusat pasar terbesar,tujuan kami hunting disitu.Mungkin karena terlalu cape maka kami beristirahat dulu diwarung pinggir jalan dekat pasar.
            
“Mari pak,”kata seorang Ibu kepada pak Juwono.
            
“Eh,iya mari bu,”jawab pak Juwono gugup
Tak berapa lama kemudian datang seorang bapak langsung berdiri didepan pak Juwono,

” Darimana pak,sudah lama pak?,” kata bapak tadi.
            
“Eh iya,saya dari Klaten pak,”jawab pak Juwono terbata bata.Sesaat kemudian bapak tadi langsung pergi.

Aku jadi penasaran”,Gimana sih pak dari tadi ditanya orang kok gugup melulu,bukankah tadi itu teman teman anda?”
            
“Aku juga bingung dik,aku kenal aja ngga sama kedua orang tadi,kok tadi tiba-tiba nanya,ada apa ya?”
            
“Lho,itu tadi bukan kenalan bapak?”aku juga ikut ikutan bingung
            
“Bukan,makanya aku juga bingung,”jawab pak Juwono sambil celingukan,karena baru saja ada orang yang berlalu sambil tersenyum kepada pak Juwono.Dia pikir,apa karena dia awut  awutan belum mandi seperti orang gila atau karena apa, kok jadi banyak orang yang tak dikenal yang menyapa dirinya.

Setelah kami tanya ke mbah Sadana,ternyata yang menyapa pak Juwono tahu,kalau pak Juwono sedang melakukan ritual mencari tuyul.

Yang memberitahu ya tuyul mereka sendiri, yang sedang beroperasi dipasar itu.Istilah kerennya,sesama pemelihara harus saling menghormati.

Maka bapak tadi bertanya,”Sudah lama pak?” maksudnya....sudah lama pelihara tuyulnya?

Oleh sebab itu perburuan di pasar terbesar itupun gagal.Karena setiap ada anak yang didekati,mereka mengaku peliharaan Bapak A atau Ibu B.Dan di pasar ternyata seperti rebutan lahan parkir.Kadang ada orang sudah hampir menjadi mangsa peliharaan Bapak A, ternyata malah diserobot oleh peliharaan ibu B.Jadi di pasar sudah terlalu sesak oleh rebutan mangsa.Oleh sebab itu mbah Sadana melarang untuk mencari di pasar.Cuma sekali lagi,sesama pemelihara…harus saling tutup mulut dan menghormati…
            
Setelah gagal hunting di pasar,kamipun berniat pulang.Pak Juwono sudah kehilangan semangat,disamping cape ditambah 2 hari belum mandi juga besok adalah hari terakhirnya.Akhirnya kami pulang lewat jalan lain,takut ketemu ibu yang tadi anaknya dipegang meronta ronta.

Sialnya begitu sampai wilayah Klaten,sekitar 5 km dari rumah pak Juwono,tiba tiba ban motorku kempes..

Waktu itu sebenarnya aku kasihan sekali melihat pak Juwono,pasti rasanya risih sekali,tubuh gemuk ngga mandi 2 hari ditambah sekarang jalan kaki kepanasan.wuih…

Oleh sebab itu aku mulai respek terhadap orang yang ritual,Karena entah itu jalan benar atau salah tapi yang pasti untuk mencapai apa yang mereka cita citakan ternyata jalannya sungguh berliku.Tidak semua orang mampu…

Setelah berjalan cukup melelahkan, kulihat ada bengkel tambal ban 200 meter didepan,maka pak Juwono kusuruh beristirahat sejenak di warung es pinggir jalan,biar aku saja yang mengantar motor ini.Kasihan pak Juwono biar istirahat sejenak,pikirku.
            
Setelah selesai menambal aku bermaksud menjemput pak Juwono diwarung es tadi,tapi tak kulihat batang hidungnya.Lho kemana ini orang,apa pulang sendiri kerumahnya?

Tiba Tiba kulihat diseberang jalan tak jauh dari warung ,pak Juwono terlihat duduk di batu seperti sedang berbincang bincang dengan seseorang,tapi mana lawan bicaranya?

“Pak,saya sudah selesai menambal,ayo bonceng”kataku mengagetkan pak Juwono.
            
“Sebentar dik,boleh saya pinjam motornya?’kata pak  Juwono tanpa menatapku
            
“Lho memang mau kemana pak,bapak lagi ngobrol sama siapa?”tanyaku celingukan,karena tak kulihat siapapun disekitar pak Juwono.
            
“Sst,diam aja dik”kata pak Juwono sambil menyuruhku menepikan motor.
”Tadi kan waktu diwarung es,ada anak diseberang jalan menangis,setelah agak lama ngga ada yang menolong,aku penasaran mendekat,saat kutanya katanya kepingin jajan disana, tapi ngga ada yang beliin.Waktu kupegang tangannya kok seperti es,jadi kayaknya ini mahluk halus.lagian kenapa dari tadi ngga ada yang lihat selain aku.Maknya aku pinjam motornya dik,aku mau beliin dia jajan,katanya disebelah sana,”kata pak Juwono bersemangat.
            
“Iya pak ,silakan”jawabku

“Ayo nak,mau bonceng bapak didepan apa belakang?’kata pak Juwono bicara sendiri
            
Setelah menunggu tak terlalu lama,pak Juwono kembali dengan muka bersemangat,ternyata bocah tadi cuma minta dibeliin siomay seharga 2 ribu rupiah,dan yang lebih menggembirakan,bocah tadi mau ikut pak Juwono.Sekarang dia pergi sebentar mau pamit ke penguasa gaibnya boleh tidaknya dia ikut manusia.katanya rumahnya bukan didaerah sini,tapi di pantai selatan 60km dari sini,malah dekat dengan rumah mbah Sadana.
            
Setelah menunggu beberapa saat tiba-tiba pak Juwono manggut manggut kegirangan,katanya bocah tadi sudah diijinkan untuk ikut manusia.Maka kami cepat-cepat pulang melaporkan ke mbah Sadana bahwa kami sudah berhasil.Tak lupa kami mencatat nama desa tempat kami bertemu dengan bocah tadi.
            
Sesampai dikediaman mbah Sadana,kami ceritakan semua tentang pertemuan tadi.

Mbah Sadana berkata “Nanti malam kamu kembali ke desa dimana kamu tadi bertemu,suruhlah anak itu bekerja,karena percuma kalau kamu pelihara tapi tidak bisa bekerja.Bila dia pulang membawa uang,maka anak itu memang bisa jadi peliharaanmu,tapi kalau tidak bisa besok kamu harus cari lagi.Bakarlah dupa dimana kamu tidak boleh kamanungsan,bawalah dari sini kembang ini,nanti sambil membakar dupa siapkan wedangan disitu,sekarang kamu berdua istirahatlah”
            
“Boleh saya mandi dulu mbah?” kata pak Juwono
            
“Belum nak,bersabarlah sampai bocah itu betul betul bisa bekerja”
            
Rasanya tak sabar menunggu malam tiba,begitu senja berlalu,kamipun langsung berangkat ketempat tadi kami bertemu dengan bocah tadi.Sesampai disana sudah hampir pukul 9 malam.Kami langsung mencari warung angkringan.Penjual angkringan agak heran juga saat kami beli teh dan kopi sekalian gelasnya.Mungkin kami dikira demit…
            
Kami langsung mencari lokasi yang sepi untuk kami menggelar ritual.Aku bertugas mengawasi agar tidak sampai ada orang yang curiga dan menganggu ritual kami.Pak Juwono langsung menyiapkan wedangan yang tadi dibeli dan langsung membakar dupa.Tak beberapa lama tiba-tiba sudah muncul bocah tadi disebelah pak Juwono dan langsung meminta wedang yang disajikan.

Pak Juwono langsung bersemangat” Boleh kamu minum wedang ini,asal bapak dibantu cariin duit dulu ,bisa ngga?”

Tidak sampai 10 menit bocah tadi pamit.Tiba tiba bruk! Ada uang segepok jatuh didekat pak Juwono ritual.Mula-mula saking kagetnya,dikira ada ular jatuh dari pohon,hampir saja pak Juwono lari,setelah celingak celinguk tidak ada apa-apa malah uang,bukan main gembira hati pak Juwono,ternyata setelah dihitung ada 5juta pecahan 50ribuan tergeletak disamping.Sesudah itu muncul bocah tadi,langsung meminta minum teh panas yang sudah disediakan.Pelan pelan dia menyeruput teh manis tersebut.Setelah itu pak Juwono berjanji besok akan menemui bocah tadi  dipantai dekat rumah mbah Sadana,karena asalnya memang dari situ.

Sesuai pesan mbah Sadana,uang yang didapat boleh dihambur hamburkan tapi tidak boleh dibawa pulang membawa bekas,sisa uang juga harus dilarung malam itu juga.karena bingung mau buat beli apa karena sudah malam,maka kami cuma beli sate kambing dan makan sepuasnya tanpa nasi.Rokok pun tidak memakai uang itu takut ntar malam masih ada sisanya,karena batasnya sebelum jam 4 pagi sisa uang harus sudah dilarung.
            
Setelah kejadian ini aku jadi semakin tahu,semua penghuni gaib ketika menjelang pukul 4 pasti akan kembali ketempat masing masing.Dan kebanyakan mahluk halus sangat taat kepada aturan alam.Karena bila tidak,mereka akan dikucilkan oleh komunitasnya.Oleh sebab itu mahluk berkasakan biasanya adalah mahluk gaib yang sudah tidak diakui oleh komunitasnya,istilah manusianya jadi gelandangan atau jadi  mahluk liar.Maka kadang manusia minta bantuan ke mahluk itu sama saja memelihara gelandangan.Boro boro bisa dimintai rejeki,buat hidup dia sendiri aja susah,bisanya ya cuma minta makan kepada manusia yang memberi sesajen ditempat terbuka atau untuk sarana mengantar santet.Oleh sebab itu pusaka yang digdaya atau mahluk halus yang bisa dimintai bantuannya adanya di komunitas atau di keraton.
            
Karena kekenyangan dan mengantuk,kami tidak sanggup pulang dan tidur di terminal terdekat,setelah sebelumnya kami melarung uang yang tersisa di sebuah pertemuan 2 sungai.

Esok paginya kami bergegas kerumah mbah Sadana yang sedari pagi sudah menunggu.Beliau langsung memberi wejangan untuk proses larungan selanjutnya.
            
“Untuk nak Juwono ketahui,setelah mbah meditasi,ternyata bocah yang nak Juwono temui dulunya milik seorang sudagar,karena sebelum meninggal beliau belum mewariskan ke anak cucunya,maka bocah itu pergi tak tentu arah,sekarang nak Juwono yang akan mengasuhnya.Memang bocah ini sudah biasa mencarikan rejeki untuk tuannya dan sangat rajin,cuma karena sudah agak lama di alam liar maka nak Juwono harus memperlakukannya dengan hati-hati karena kalau ngambek bisa sangat merepotkan.Nanti malam kita akan meminta ijin ketempat asal si bocah sekalian kamu beri nama,sekarang nak Juwono sudah boleh mandi sepuasnya”
            
Kemudian mbah Sadana melirik ke arahku,” Le,kamu siapkan uang yang 2 juta untuk dilarung dan belilah uborampe yang lengkap untuk sesaji  nanti malam”

Menjelang sore sesaji sudah siap,akupun sudah mencatat setiap pengeluaran untuk dilaporkan kepada pak Juwono.
            
“Ah sudahlah tak usah terlalu mendetail begitu dik,saya percayakan uang itu padamu.karena saya sudah hampir berhasil kok terlalu ribet kalau terlalu berhitung begitu,”Kata pak Juwono tersenyum sumringah
            
“Niatnya ntar mau dikasih nama siapa pak bocah itu?” tanyaku

“Siapa ya..coba tak mikir sebentar.Oya Tole aja deh,biar mengingatkan saya kalau sampeyan yang membantu saya,kan simbah kalau memanggilmu dengan sebutan tole,ya itu aja,gampang diingat lagi”kata pak Juwono sambil menyisir rambutnya yang baru dikeramas.

Menjelang sore selamatan sudah siap,tetangga mbah Sadana diundang untuk ikut merestui,meski hanya disebutkan selamatan ini adalah syukurannya Pak Juwono,tak disebutkan secara detail untuk apa.

Setelah selesai kami langsung membawa sesaji untuk dilarung,malam itu juga diantar mbah Sadana,kami membawa larungan kepantai.Setelah didoakan oleh mbah Sadana,pak Juwono juga dibuka kembali mata batinnya,dia langsung diperintahkan untuk melarung semua sesaji beserta uang 2 juta yang sudah dipersiapkan.

Pak Juwono pelan pelan menuju ke ombak selatan yang ganas,setelah air laut sampai hampir sebatas leher,sesaji dilepaskan.
Seolah ada tangan besar yang langsung menyambut,sesaji langsung hilang tak berbekas.Begitu pak Juwono kembali ke pantai,dari kejauhan tiba tiba ada anak kecil berlari lari sambil engklek dengan kaki bergantian memanggil manggil pak Juwono.

“Pak no,pak no,kapan aku diajak pulang,”kata si Tole tak sabar.

Malam itu juga kami mengantar pak Juwono kerumahnya.Semua perlengkapan tidur,mandi,mainan tuyul tsb yang diberi nama tole sudah kami persiapkan.Kata pak Juwono si Tole tak henti hentinya bertanya disepanjang jalan tentang segala sesuatu yang dilihatnya.
            
“Pak no, pak no,kita ini naik apa?’kata si Tole
            
“Ini namanya mobil le,makanya bapak dibantu bekerja agar bisa punya seperti ini,”kata pak Juwono sumringah.
            
“Nak Juwono,penglihatanmu hanya sementara karena ada aku,mulai besok sore kamu harus latihan sendiri untuk bisa bertemu dan berkomunikasi dengan tole,nanti kalau sudah bisa mendirikan cundrik tanpa roboh berarti penglihatanmu sudah sempurna,kamu dapat memanggil dan bertatap muka dengan  tole kapan saja kamu mau”
            
“Iya mbah,mulai besok saya belajar bermeditasi dan belajar bernapas panjang”
            
“40 hari kemudian kami baru mendapat kabar kalau pak Juwono sudah bisa mendirikan cundrik tanpa roboh.

Berarti mulai saat itu jiwa pak Juwono adalah jiwa Tole,pengetahuan yang dimiliki pak Juwono juga dimiliki Tole,apa yang dirasakan Tole juga dirasakan pak Juwono dan sebaliknya.

Dan persiapan wayang kulit pun segera digelar sebagai tanda mulai saat itu Tole adalah bagian hidup dari pak Juwono
                                                                                            #####