 |
| TUYUL |
Meski sudah pukul 10:00 pagi rasanya masih malas untuk melakukan
aktivitas.Maklum semenjak usahaku bangkrut ditipu teman,dan sekarang hanya
kerja serabutan,kerjaanku hanya menunggu orang meminta bantuanku,mungkin antar
barang,antar orang ataupun pekerjaan kasar lainnya.
Untung istriku punya usaha
warung kecil-kecilan didepan rumah,meski hanya cukup untuk menyambung hidup
kami dari hari ke hari dan untuk menghidupi kedua anak kami yang masih kecil –
kecil.
Sudah jadi kebiasaanku setelah bangun ,aku langsung ke warung
istriku untuk sarapan atau sekedar minum kopi sambil ngobrol – ngobrol dengan
istriku atau pun pelanggan warung.Yah daripada di kamar terus pasti
membosankan.
“Mas tadi mbah Sadana mampir ,katanya mas Marno suruh
kesana,penting katanya,”kata istriku sambil membawakan secangkir kopi panas
kearahku.
“Oya,nanti sehabis mandi aku langsung kesana,jawabku sambil
bersiap siap sarapan nasi rames dan tempe kesukaanku.
”Lumayan ada pekerjaan
untuk hari ini,”pikirku
Mbah Sadana adalah tetanggaku,jaraknya hanya 100an meter dari
tempat tinggalku.Beliau dikenal sebagai orang pintar dikampungku, khusunya bagi
orang yang ingin usahanya laris ataupun yang ingin berhubungan dengan
hal–hal gaib. Orangnya dermawan dan cukup disegani dikampungku.
Seringkali
dirumah beliau ada pertunjukan wayang kulit ataupun kesenian lainnya.Kami warga
sekitar sudah mahfum,berarti ada tamu mbah sadana yang sedang syukuran.Imbasnya
tentu saja ke warungku,jadi semakin ramai kalau sedang ada hajatan dirumah mbah
Sadana.
Kalau menyangkut hal-hal gaib pasti selalu beliau yang dimintai
tolong oleh warga,baik warga sekitar maupun yang datang dari jauh,begitu juga
bila menyangkut hari – hari baik bagi orang yang ingin menggelar hajatan,pasti
beliau yang dimintai tolong.Istilahnya,pakar ilmu kejawen.
Umur beliau mungkin 80an tahun,dengan perawakan gagah,cukup
tinggi besar dan rambut yang telah memutih semua yang menambah kewibawaan
beliau.Meskipun sudah sepuh,beliau tidak dikaruniai putra,jadi beliau hidup
hanya bersama istrinya yang sama – sama sudah sepuh dan kedua pembantunya.
Rumahnya cukup bagus untuk ukuran dikampungku,karena waktu itu masih jarang
orang punya rumah bertingkat.Biasanya loteng digunakan untuk tamu-tamu beliau
yang menginap.
Meskipun hidup berkecukupan,laiknya orang desa,beliau masih
menggarap ladang dan hewan ternak.Selera rokok pun demikian,meski para tamu
silih berganti memberi aneka macam rokok,beliau tetap meracik sendiri tembakau
kemenyan dan tak lupa sedikit cengkeh.
Artinya meskipun beliau kaya tapi tetap
ndeso alias jadul,begitu menurut orang sekarang bilang.
Selesai mandi dan sarapan aku bergegas kerumah mbah Sadana.Dari
jauh kulihat ada mobil parkir didepan rumah beliau,setelah kudekati ternyata
masih agak baru,plat Ibukota.
“Wah ada tamu jauh,mungkin aku disuruh jadi guide’”pikirku
menebak
“Kulo nuwun mbah,”kataku takzim sambil memasuki ruang tamu
“Iya,masuk aja le,kenalkan ini ada tamu dari Klaten,pak Juwono
namanya,”kata simbah mempersilahkanku.
Kulihat tamu simbah ini berumur 40an tahun,berperawakan agak
gemuk,perut buncit dan berkulit agak hitam.
“Tolong le nanti nak Juwono kamu ajak
putar- putar biar hapal
wilayah sini,dia pingin ritual disini untuk beberapa hari kedepan’”kata mbah
Sadana mempersilakanku.
“Siap mbah nanti saya antar ke pantai dan gua gua yang ada
disekitar sini,”kataku langsung berpromosi.”
Saya kira pak Juwono datang dari
Ibukota,ternyata Klaten to pak’”? kataku sambil menjabat tangannya”
Dulu beli
mobilnya di Ibukota pak Juwono?’tanyaku berbasa basi
“O,nggak kok mas”jawab pak Juwono gugup.
“He- he itu mobilku kok le,kemarin sore pak Marwan tamuku dulu
yang dari Jakarta yang memberikan padaku,katanya sebagai tanda terima kasih
ritualnya sudah menetas,sekarang dia sukses dan kemarin kesini bersama sopirnya
datang khusus cuma buat nganter mobil itu,kata mbah Sadana terkekeh.
”Coba kamu
lihat itu dimeja,kunci mobil sekalian BPKBnya kamu cek,”kata mbah sadana
menjawab keherananku,karena menurutku kok ada orang yang bisa bisanya memberi
mobil dengan gratis,meskipun bekas sih,tapi kutaksir lebih 100 jutaan
harganya.Terus sesukses apa sih ritualnya kok sampai ngasih mobil,pikirku
keheranan.
Seolah mengerti isi hatiku mbah Sadana menyela,
”Udah sana
le,kamu cek mobilnya,nanti kamu minta duit sama mbah putri dibelakang untuk
beli bensin.Apa kamu mau aku nikahkan dengan ibu Rastri,biar kaya seperti pak
Marwan?’tanya mbah Sadana terkekeh
‘Iya,eh ngga ding mbah,”jawabku tergagap karena kaget simbah
ternyata tahu isi hatiku.
“Siapa itu bu Rastri mbah? Saya juga mau dinikahan,biar saya
juga kaya,”kata pak Juwono bersemangat.
“Ibu Rastri adalah mahluk halus penguasa Juranggrenjeng,apa nak
Juwono sanggup melakukan ritualnya? ,”tanya mbah sadana
“Bagaimana caranya mbah?”Pak Juwono mulai penasaran
“Tidak semudah yang dibayangkan nak,disamping godaanya berat,
apa nak Juwono sanggup apabila sewaktu waktu salah satu sanak saudara nak
Juwono diminta Ibu Rastri?,’tanya mbah Sadana
“Eit,ya saya pikir – pikir dulu mbah,saya masih harus konsultasi
dengan istri saya dulu,”kata pak Juwono gugup
“Setiap orang sudah ada jalannya masing - masing,meski nak
Juwono mempunyai tekadpun kalau alam gaib belum menerima,tetap saja tekad itu
percuma,”kata mbah Sadana sambil mulai meracik tembakau kesukaannya.
“Terus saya harus bagaimana mbah,saya sudah terlanjur pamit
kepada istri,tidak akan pulang kalau tidak membawa hasil.Saya ingin kaya
mbah,apa ada cara lain yang tidak membutuhkan tumbal?’”kata pak Juwono berharap
cemas, karena dia telah menjual sebagian tanah warisan almarhum orang tuanya
untuk tujuan ritual ini.
“Bagimana mbah,bisa tidak saya ikut ritual?,”ujar pak Juwono
mendesak
“Nak Juwono dari terawangan mbah, kamu itu punya dasar balung
sugih,tapi apa kamu sanggup memelihara mahluk gaib untuk kamu openi,yang harus
kamu rawat setiap hari,tidak cukup sehari dua hari,tapi tiap hari selama
kamu membutuhkannya,kamu harus merawatnya seperti kamu merawat dirimu sendiri,
karena nantinya dia adalah belahan jiwamu.apa yang dia rasakan kamu juga merasakan
begitu sebaliknya’”kata mbah Sadana sambil menghisap rokoknya dalam dalam
“Maksud mbah Tuyul? Iya mbah saya sanggup,”jawab pak Juwono
bersemangat seolah olah sudah sangat yakin bahwa kesuksesan akan
menghampirinya.
‘”Belum tentu sebangsa tuyul nak Juwono,mbah hanya membukakan
jalan saja,takdir nak Juwono sendiri lah nanti yang akan menuntun,karena bangsa
tuyul pun bermacam macam,sama seperti kambing dan domba,satu keluarga tapi beda
jenis kan,begitu juga dengan tuyul orang menganggapnya sama padahal banyak sekali
macamnya,nanti nak Juwono sendiri yang membuktikannya”
Aku yang baru dari dapur membawa makanan dari mbah putri ikut
mendengar cerita itu ikut terkesima,karena baru kali ini mendengar tentang
mahluk gaib ternyata banyak jenisnya,bahkan tuyul pun ternyata banyak jenisnya.
Setelah menyajikan camilan tambahan dari
mbah putri akupun ikut
langsung nimbrung ingin mendengar lebih banyak lagi tentang alam gaib.
“Mbah apa benar kalau kita pelihara tuyul, istri kita harus
neteki si tuyul? ,”Tanyaku sambil meletakan nampan berisi camilan untuk
dihidangkan.
“Ha-ha –ha, masak mahluk gaib minta disusui manusia? Setahu mbah
tidak begitu,mungkin tuyul jenis lain,setahu mbah tuyul kalau minta susu cukup
dikasih air tajin,itu saja,bukan susu dalam arti sebenarnya’,”kata mbah Sadana
sambil mencomot camilan yang disediakan.
Dari obrolan yang hampir seharian itu aku dapat sedikit mengerti
tentang tuyul.ternyata tidak semua orang berbakat untuk mempunyai peliharaan
mahluk halus,karena tuyul mau ikut pun mempertimbangkan si pemelihara,tidak
asal ada uang ada barang,banyak sekali faktornya termasuk weton si pelaku dsb,
karena orang memelihara mahluk gaib ternyata adalah orang yang
telaten.
Bayangkan saja, untuk memelihara tuyul tiap sore sesaji berupa minuman
panas ( wedangan dlm bhs jawa) harus selalu ada sebelum sore,tiap hari ,dan tak
boleh terlupa.Oleh sebab itu biasanya tuyul selalu menanyakan ada ngga ibu
dirumah,karena kalau pemelihara lupa sesaji diharapkan pasangannya/isterinya
yang menyiapakan.
Jadi full tiap hari dikamar khusus tidak boleh lupa.
Bagaimana
kalau keduanya sama sama lupa? Tentu saja tuyul bisa ngambek tidak mau
diperintah untuk mencari rejeki.ya kalau ngambeknya sehari,kalau sebulan atau
malah lebih? Oleh sebab itu tidak semua orang mau pelihara tuyul kalau tidak
mau repot.
Bagaimana dengan makanannya? meski tidak setiap hari hanya ketika
sehabis mencarikan rejeki saja,tapi kadangpun cukup merepotkan,ya kalau minta
makan hal yang wajar sih mudah,semisal jajan pasar atau lainnya tapi kalau
mintanya agak sulit dan tengah malam bagaimana?
Ya itulah resikonya,tetap harus
dicarikan meski tengah malam sekalipun.Begitu juga dengan kemunculannya,apakah
tiap hari 24 jam mengikuti kita?
Ternyata tidak,kadang muncul kadang juga
tidak.Kadang tahu -tahu muncul ikut duduk disamping kita ikut nonton tv,meski
hanya kita yang bisa melihat,atau kadang meski kita panggil saat kita
membutuhkan,malah ngga muncul.
Jadi tidak bisa ditebak.Meski kita sudah
bermeditasi berjam jam ritual untuk memanggil, kalau lagi tidak mau muncul ya tetap
tidak muncul.
Mungkin dalam meditasi yang kita jumpai hanya anak kecil yang
sedang tidur,tapi kita tidak bisa membangunkan.Ibaratnya sama seperti kita
memelihara anak penderita autis berat,karena sekali tertuju pada suatu
hal,berjam jam dia hanya fokus pada satu hal ,jadi percuma saja kita
bujuk.Tetapi apabila sedang rajin,dia tak habis habis nya mencari rejeki untuk
kita.
Oleh sebab itu pemelihara harus pandai pandai mencuri hati si tuyul agar
kerasan dan rajin bekerja.
untuk komunikasi pun ternyata tidak semudah yang
dibayangkan.Kita harus belajar bernafas panjang.Oleh sebab itu pelaku biasanya
selama 40 hari supaya berlatih menahan nafas dengan jalan mendirikan keris
kecil.
Biasanya oleh mbah Sadana diberi cundrik/keris kecil yang harus dilatih
setiap hari.Kalau baru belajar biasnya cundrik akan berdiri tapi karena sudah
kehabisan nafas cundrik akan roboh kembali.
Kalau pernafasan pelaku sudah
sempurna,bisa minimal tahan nafas minimal 3 menit,cundrik akan tetap berdiri
meski sudah bernafas biasa.
“Mbah kami berangkat dulu beli uborampe sekalian nyoba
mobilnya,”kataku berpamitan
“Iya le, hati hati dijalan,jangan sampai kelupaan membawa
catatan uborampenya,jangan sampai ada yang kurang”
Kami berdua langsung menuju kota yang jaraknya kira kira 5
km dari tempatku.
“Pak ambil uang sekarang kan bisa lewat ATM kenapa harus ke
Banknya,”tanyaku mengawali pembicaraan.
“Limit ATM kan terbatas dik,paling ngga saya harus mengambil 23
jutaan,yang 22,5 untuk ritual,yang 500ribu utuk peganganku sendiri”jawab pak
Juwono sambil tengok kanan kiri melihat pemandangan sepanjang perjalanan jalan
yang kami lalui
“lho kok banyak banget,untuk apa aja pak,”tanyaku keheranan
Karena aku baru tahu,untuk mengambil mahluk gaib ternyata butuh
modal yang besar,dan itu pun tidak semua orang berhasil,perinciannya 500ribu
digunakan untuk jamasan dan selamatan pembukaan alam gaib.
Setelah bisa melihat
alam gaib dan ada mahluk gaib yang mau diajak ikut ,baru tahap
selanjutnya.
Tetapi meski sudah bisa melihat alam gaib ternyata tidak ada satupun
mahluk halus yang mau ikut maka ritual tidak diteruskan,jadi sama saja
kehilangan 500 ribu.yang 22 juta utuh.
Tetapi bila ada yang mau ikut,ritual
selanjutnya mohon restu kepada penguasa gaib dimana pelaku mendapatkan mahluk
halus tsb.
Semisal kita melarung 2 juta,maka nantinya mahluk gaib tsb akan
membawa 2juta 1 x angkut.tergantung seberapa sering dia mau bolak balik.Kalau
dalam sehari mahluk gaib tsb mau bolak balik 10 x maka dalam sehari pelaku
mendapat 20 juta,tetapi mbah Sadana biasanya membatasi untuk larungan maksimal
2 juta,karena kasihan mahluk gaibnya apabila terlalu berat bebannya.
Ritual terakhir adalah yang paling mahal.Setelah larungan yaitu
meminta ijin kepada penguasa gaib telah purna mbah Sadana beserta pelaku
memboyong mahluk gaib tsb kerumah pelaku.Setelah diberi pagaran gaib dan
dinilai sudah krasan biasanya mahluk gaib sudah mulai bekerja,tetapi waktunya
tidak bisa ditentukan,tergantung pelaku memperlakukan mahluk gaib
tersebut.Semakin cepat kerasan semakin cepat cari rejekinya.
Apabila sudah bisa mencari rejeki untuk pelaku ritual,baru sisa
yang 20 juta yang dipakai.Setelah pelaku mendapat rejeki yang pertama,pelaku
harus cepat cepat ketempat mbah Sadana.Ditempat mbah Sadana ini dilakukan
ritual sekali lagi,mbah Sadana akan berkomunikasi dengan penguasa gaib,bahwa
salah satu anak buahnya sudah melakukan tugas dengan baik dan sekarang sudah
diadopsi sebagai anak/istri pelaku.Oleh sebab itu sebagai bebungah,hiburan apa
yang dimaui oleh penguasa gaib.Apabila suka wayang kulit misalnya,maka sisa
uangnya digunakan untuk pementasan wayang kulit beserta selamatannya.Setelah
itu resmilah sang pelaku mempunyai peliharaan untuk seterusnya.
“lho dik Marno kok tidak tahu,kan sampeayan asisten mbah
Sadana,” Pak Juwono bingung
“Memang saya bertetangga pak dan memang seringkali ada
pementasan wayang kulit atau tayub ditempat mbah,tapi saya kan baru hari ini
disuruh jadi guidenya para tamu,istilahnya saya karyawan baru 1 hari ini
pak”,kataku terkekeh.
Setelah membeli uborampe lengkap kami bergegas pulang,karena
ritual mandi jamas jam 3 ini sudah akan dimulai.Kulihat mbah Sadana sedang
mengantar tamu yang sedang berpamitan
“Langsung diserahkan ke mbah putri sana le,biar langsung
disiapkan”,kata mbah Sadana melihat kedatanganku
Setelah persiapan jamasan siap,Pak Juwono langsung dimandikan
oleh simbah sementara aku dan kedua pembantu simbah menyiapkan selamatan untuk
sore nanti.setelah dijamas pak Juwono langsung dipingit di Loteng tidak boleh
keluar kamar sampai dipanggil.Dia dalam kamar harus belajar mantra.
Pukul stengah 5 pak Juwono dipanggil ditanya sekali lagi
kesungguhan hatinya untuk ritual ini.
“Nak Juwono sudah tahu konsekwensinya? Mbah hanya penunjuk
jalan saja,mbah tidak bisa menjamin ritual 100% berhasil,karena semua
tergantung nak Juwono sendiri.Kalau sampai gagal berarti nak Juwono kehilangan
waktu dan uang,oleh sebab itu coba dipikir kembali baik buruknya”
“Saya sudah bulat hati mbah,biarlah saya kehilangan uang yang
tidak seberapa daripada tidak mencoba samasekali,”kata pak Juwono sambil
menyerahkan semua sisa uang yang ada
“Baiklah kalau itu maumu,kamu sudah tahu sendiri perincian
biayanya,sebab tadi kamu sendiri yang belanja,sekarang sisa uang itu kamu
titipkan ke nak Marno saja,biar dia yang menyimpannnya,”kata mbah Sadana
mantap
Aku yang sedari tadi mendengarkan ikut tergagap,karena agak
ngeri juga memegang uang orang lain, karena uang itu harus selalu siap
sewaktu waktu dibutuhkan,karena berurusan dengan alam gaib tidak
bisa diprediksi kapan waktunya,bisa 3 hari 3 bulan atau malah 6 bulan tidak ada
yang tahu. Oleh sebab itiu mbah Sadana selalu mensyaratkan agar uang disiapkan
dimuka,menjaga jangan sampai mahluk gaib sudah siap bekerja sementara uang
terpakai dengan alasan apapun, bisa bisa nyawa pelaku jadi taruhannya.
“Le, aku titipkan uang itu padamu ya,mbah putri sekarang sudah
sepuh,sudah malas untuk mengurusi,sekarang kamu yang aku percaya jadi
asistenku,”kata mbah Sadana sambil menatapku
“I,Iya mbah terimakasih atas kepercayaannya’”kataku gugup sambil
menerima uang 22 juta terebut
“Sekarang nak Juwono pergilah kamu kearah pantai,nanti kamu akan
menjumpai mahluk gaib,cobalah berkomunikasi dengan mereka,semakin cepat kamu
bisa mengajak salah satu dari mereka,semakin baik.
Kamu kuberi batas 3 hari
mulai hari ini,kamu harus sudah bisa mengajak salah satunya.Apabila gagal
berarti selamanya kamu tidak bisa.
Jangan sekali kali mandi ataupun cuci muka
selama 3 hari ini,jangan pula kamu tidur ditempat berdinding meski dari bambu,
tetapi harus ditempat terbuka.Mengerti nak Juwono?
Sekarang pergilah,takdir
yang akan menuntunmu”
“Iya mbah mohon restunya”kata pak Juwono bangkit mencium tangan
mbah Sadana untuk memulai pencariannya.
“Oya mbah boleh tidak saya mendapatkan lebih dari satu,’”kata
Pak Juwono percaya diri
“Silakan nak,asal kamu mampu merawatnya,”Kata mbah Sadana bijak
Mbah sadana kemudian langsung menyiapkan uborampe yang dibeli
dan masuk kamar untuk memohon kepada Tuhan YME agar apa yang menjadi tujuan
dapat terkabul,sekaligus bermeditasi memonitor Pak Juwono.
Sebelum masuk kamar beliau menghampiriku,
”Oya le, tadi mbah
dapat hadiah telpon dari pak Wisnu katanya itu telpon harus dibeliin nomor,coba
kamu beli sana,ini uangnya”
Setelah aku lihat Hp merk Siemens C25
sejaman dengan Nokia
3310,masih baru cuma belum ada nomornya.Langsung aku berangkat ke kota.
Waktu
itu kartu perdana harganya masih mahal,350 ribu dengan pulsa 100 ribu.
Waktu
itu belum ada pulsa 50 ribu apalagi 10 ribu seperti sekarang.Nomornya pun masih
11 digit.Sampai sekarangpun nomornya masih dipertahankan.
Sedang asik asiknya belajar HP baru,pintu diketuk dengan keras
dari luar.
“Mbah, mbah, bukain ini Juwono mbah”
Begitu kubuka kulihat pak Juwono langsung merengsek
masuk,nafasnya ngos ngosan.raut mukanya pucat pasi.
“Sabar pak ada apa,ngomong yang pelan,”ujarku menenangkan
“Simbah mana,simbah mana,masih ada yang ngikutin ngga ya?,” Kata
pak Juwono blingasatan
“Mbah lagi bermeditasi,ada apa sih pak?’
“Tadi begitu buka pintu rumah ini sampai di pantai aku lihat
banyak sekali orang,kukira manusia biasa,tapi setelah kulihat kok orangnya aneh
aneh,kalau manusia kok antar mata dsb tidak sejajar,ada pula manusia yang
berkulit sangat putih tapi kepalanya menyerupai babi,ada juga yang badannya
kurus pendek tapi kepalanya besar sekali.
Lah itu tadi yang tadi
membuntutiku,aku mau lari malu,mau teriak juga malu,untung aku cepat cepat
jalan kesini,mudah mudahan sudah ngga ngikuti aku lagi” kata Pak Juwono ngos
ngosan.
Sebenarnya aku kepingin tertawa terbahak bahak waktu
itu,mengingat tubuh pak Juwono yang tambun pasti lucu sekali lihat dia berlari
lari dengan ketakutan,apalagi sering kulihat dia sebentar bentar membetulkan
celananya yang melorot ketika berjalan,pasti lucu sekali,tapi biar tenang
akupun pura pura ikut berempati.
“Tenang pak,ya itu namanya mahluk halus,tidak sempurna seperti
kita manusia,jawabku seolah mengerti.
“O begitu ya dik,sampean kan udah pengalaman,saya kan belum” pak
Juwono membela diri.
Padahal sebenarnya akupun samasekali belum pernah melihat mahluk
halus,wong mandi kemalaman saja aku minta ditemani istriku,apalagi lihat mahluk
halus.Hiii ….takut juga..
“Begini dik ,saya minta sampean mau menemani saya selama 3 hari
ini,tolonglah dik,saya masih trauma,nanti saya bayar jasa ojek sampean selama
menemani.Bensin dan makan saya yang bayar.Saya bayar untuk jasa menemani sehari
200 ribu bagaimana?’
Sebenarnya aku mau meloncat kegirangan waktu itu,tapi pura
pura aku bersikap tenang.
“Ya pak saya temani,cuma mohon maklum saya tidak bisa apa apa
cuma bisanya menemani,
bagaimana?
“Ngga apa apa dik, yang penting saya ditemani kemanapun saya
pergi,wong sekarang belum malam saja di pantai sudah sebegitu banyak mahluk
halus apalagi nanti malam? Kata pak Juwono memelas.
Bagaimana kelanjutan cerita ini,apakah pak Juwono berhasil
membawa mahluk gaib?
EPISODE KE 2
Saat malam menjelang aku dan pak Juwono bersiap ke pantai.Cuaca
malam itu cukup terang meski bukan bulan purnama.Karena hari itu bukan hari
wingit, maka hanya ada beberapa orang saja ditepian pantai.
Disepanjang
perjalanan sebentar- sebentar Pak Juwono merapat ke tubuhku.Mungkin takut
melihat sesuatu tetapi malu untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Lihat apa pak?,”tanyaku
Ternyata menurut penglihatan pak Juwono disepanjang jalan menuju
pantai, banyak sekali mahluk mahluk yang aneh,ada yang seperti manusia tapi
berkepala kuda,ada yang berkulit sangat putih disekujur tubuhnya tapi berkepala
babi, ada juga yang berperawakan tinggi besar dengan rambut awut awutan,ada
juga yang seperti manusia pada umumnya tetapi mukanya tidak simetris.
“Pak kenapa tidak komunikasi saja dengan mereka,mungkin yang berkepala babi itu
babi ngepet,kan cari uangnya lebih banyak daripada tuyul,”kataku memberi
semangat.
“Ah jangan yang serem serem dik,mending cari yang anak kecil aja atau seperti
itu,tuh lihat ngga ada putri cantik.Sebentar ya dik saya kesana ,siapa tahu dia
mau ikut denganku’”kata pak Juwono bergegas meninggalkanku.
Akupun duduk dipinggir pantai sambil memperhatikan pak Juwono yang menurut
penglihatanku mondar mandir seperti orang stress.Kadang dia seperti jalan
engklek,jalan dengan satu kaki seperti orang sedang bermain,kadang dia lari-
lari seperti mengejar sesuatu,kadang dia jalan cepat sekali menuju
laut.Sebenarnya aku pingin ketawa melihat tingkahnya,tapi daripada aku juga
nanti dikira orang stress ,ketawa ketiwi sendiri maka daripada bosan, akupun
berjalan di sepanjang pantai sambil mengawasi pak Juwono mondar mandir.
Kulihat
beberapa orang sedang melakukan ritual,ada yang bersila menghadap pantai,ada
yang dikubur hanya kelihatan kepalanya ditemani mungkin gurunya,ada juga
pasangan remaja yang asik duduk berdua.Semua seolah sibuk dengan urusan masing
masing.
Setelah hampir 2 jam mondar mandir pak Juwono menghampiriku.
“Edan dik,pantai ramainya begini tak satupun yang menyapaku,boro-boro mau
diajak bicara,aku ikuti bahkan tadi aku lari-lari mengejar gadis cantik eh
malah dia masuk ketengah laut’”, kata pak Juwono langsung jatuh terduduk
disebelahku.
“Ramai gimana pak,wong paling cuma 10 orang termasuk kita kok,”kataku bingung
“lho apa sampeyan ngga lihat seperti hari Lebaran aja,sampai aku mau nabrak
nabrak orang begitu,”jawabnya tak mau kalah.
Aku lupa kalau mata batin pak Juwono sudah dibuka,jadi dia bisa
melihat sepanjang pantai banyak sekali mahluk mahluk gaib berkeliaran.Ada yang
sedang berjalan jalan,ada yang sedang mandi di laut dan banyak anak-anak kecil
yang sedang bermain,makanya tadi kulihat pak Juwono kakinya engklek,ternyata
dia sedang menirukan anak kecil yang kakinya engklek dengan satu kaki.Rupanya
dia meniru gerakan tersebut untuk merayu agar anak tersebut mau berkomunikasi
dengan pak Juwono.
Tapi sampai jauh malam tak satupun ada yang mau diajak bicara
apalagi mau ikut.
“Ayo dik, kita pulang aja,aku udah kelewat cape,kita lanjutkan besok lagi “
“Lho katanya tadi ketemu cewek cantik pak,apa ngga mau diajak pulang?”kataku
meledek
“Boro – boro,”katanya kesal.
Mungkin karena terlalu cape seharian belum istirahat,begitu sampai teras
rumahku,pak Juwono langsung terlentang dan mendengkur…
Akupun langsung masuk
rumah dan tidur menyusul istriku yang sudah terlelap dari tadi.
Setelah matahari menyinari badan pak Juwono,dia bangun agak kebingungan.
“Dik gimana ya ,rasanya risih sekali pingin cuci muka semaleman kena udara
laut, sekarang kepanasan,boleh ngga cuci muka,palingg ngga mataku aja ya ngga
apa,”ujarnya sambil mengusap usap mukanya yang kelihatan kusam dan berminyak
“Jangan dulu pak,nanti ritualnya percuma saja ,buang buang duit,kalau sampai
terkena air nanti bapak udah ngga bisa lihat alam gaib gimana? Mending sekarang
bapak ganti baju dan kita ngopi ngopi dulu,”kataku sambil membawakan secangkir
kopi panas dan makanan untuk sarapan pagi itu.
“Aduh rasanya risih banget dik,apalagi sampai besok aku ngga boleh kena
air,terus kalau sampai besok belum ada yang mau ikut gimana ya?”jawabnya
setengah putus asa.
“Sabar pak,kan masih ada hari ini dan besok,”kataku sambil memanaskan motor
untuk sarana kami nanti berpetualang.
“Okelah,coba hari ini kita kearah timur sampai kota sebelah,siapa tahu
disepanjang perjalanan atau dipasar pasar ada yang mau nyantol ikut aku”
Dengan berboncengan kami berdua menuju kearah kota yang lebih
ramai.Di sepanjang perjalanan setiap melewati pohon besar pasti kami
berhenti,karena menurutnya disetiap pohon besar pasti ada anak yang sedang
bermain main,baik main engklek maupun yang lainnnya.setiap berhenti satu
persatu anak yang ada disitu pasti dipegang.Kalau badan atau tanganya dingin
seperti es berarti itu mahluk halus,tapi kalau hangat itu manusia biasa.
Karena setiap menjumpai anak kecil dibawah pohon pasti dipegang,ada satu cerita
menarik yang tidak pernah aku lupakan.
Waktu itu begitu melihat ada anak kecil bermain dibawah pohon tanpa basa basi
pak Juwono langsung minta berhenti dan langsung memegang tangan anak kecil
itu,karena mungkin kaget,anak tersebut meronta ronta memanggil ibunya,untung
saja kami tidak dihakimi massa,setelah kami minta maaf cepat cepat kami tancap
gas.
“Dasar orang edan!,”kata ibu itu saat memaki kami.
“Pak lihat-lihat dulu dong,untung aja kita selamat,apa tidak bisa bedain antara
manusia dan tuyul?”kataku kesal
“Maf, maaf dik,aku juga bingung sih,”kata pak Juwono membela diri.
“Lho tuyul kan jelas,mulutnya vertikal,nggak pakai baju,rambutnya gundul,masak
begitu aja ngga bisa bedain,kita tadi hampir mati pak,”sungutku kesal.
“Kata siapa begitu,itu kan di sinetron,buktinya banyak tuyul yang kutemui
mulutnya wajar,rambut wajar tidak semua gundul,malah ada juga yang
berpakaian,jadi mana aku tahu kalau itu anak bukan tuyul kalau tidak
kupegang,”jawab pak Juwono tak mau kalah.
”Apalagi itu anak sedang bermain
sendiri dibawah pohon,mana aku tahu dik?”
“Ya udah,lain kali hati-hati pak,”jawabku asal
Tuyul ternyata tidak semua gundul,bermulut vertikal,menyusui dsb.
Tuyul yang pak
Juwono temui ternyata banyak yang mirip anak anak kita yang berumur 3
tahunan.
Cuma kebanyakan memang hanya bercawat putih seperti memakai
diapers.
Rambut dan mulut tak ubahnya manusia biasa,yang membedakan suhu tubuhnya.
Sesampai di kota,kami langsung menuju pusat pasar terbesar,tujuan kami hunting
disitu.Mungkin karena terlalu cape maka kami beristirahat dulu diwarung pinggir
jalan dekat pasar.
“Mari pak,”kata seorang Ibu kepada pak Juwono.
“Eh,iya mari bu,”jawab pak Juwono gugup
Tak berapa lama kemudian datang seorang bapak langsung berdiri
didepan pak Juwono,
” Darimana pak,sudah lama pak?,” kata bapak tadi.
“Eh iya,saya dari Klaten pak,”jawab pak Juwono terbata bata.Sesaat kemudian
bapak tadi langsung pergi.
Aku jadi penasaran”,Gimana sih pak dari tadi ditanya orang kok
gugup melulu,bukankah tadi itu teman teman anda?”
“Aku juga bingung dik,aku kenal aja ngga sama kedua orang tadi,kok tadi
tiba-tiba nanya,ada apa ya?”
“Lho,itu tadi bukan kenalan bapak?”aku juga ikut ikutan bingung
“Bukan,makanya aku juga bingung,”jawab pak Juwono sambil celingukan,karena baru
saja ada orang yang berlalu sambil tersenyum kepada pak Juwono.Dia pikir,apa
karena dia awut awutan belum mandi seperti orang gila atau karena apa,
kok jadi banyak orang yang tak dikenal yang menyapa dirinya.
Setelah kami tanya ke mbah Sadana,ternyata yang menyapa pak
Juwono tahu,kalau pak Juwono sedang melakukan ritual mencari tuyul.
Yang
memberitahu ya tuyul mereka sendiri, yang sedang beroperasi dipasar itu.Istilah
kerennya,sesama pemelihara harus saling menghormati.
Maka bapak tadi
bertanya,”Sudah lama pak?” maksudnya....sudah lama pelihara tuyulnya?
Oleh sebab itu perburuan di pasar terbesar itupun gagal.Karena
setiap ada anak yang didekati,mereka mengaku peliharaan Bapak A atau Ibu B.Dan
di pasar ternyata seperti rebutan lahan parkir.Kadang ada orang sudah hampir
menjadi mangsa peliharaan Bapak A, ternyata malah diserobot oleh peliharaan ibu
B.Jadi di pasar sudah terlalu sesak oleh rebutan mangsa.Oleh sebab itu mbah Sadana
melarang untuk mencari di pasar.Cuma sekali lagi,sesama pemelihara…harus saling
tutup mulut dan menghormati…
Setelah gagal hunting di pasar,kamipun berniat pulang.Pak Juwono sudah
kehilangan semangat,disamping cape ditambah 2 hari belum mandi juga besok
adalah hari terakhirnya.Akhirnya kami pulang lewat jalan lain,takut ketemu ibu
yang tadi anaknya dipegang meronta ronta.
Sialnya begitu sampai wilayah
Klaten,sekitar 5 km dari rumah pak Juwono,tiba tiba ban motorku kempes..
Waktu itu sebenarnya aku kasihan sekali melihat pak Juwono,pasti
rasanya risih sekali,tubuh gemuk ngga mandi 2 hari ditambah sekarang jalan kaki
kepanasan.wuih…
Oleh sebab itu aku mulai respek terhadap orang yang
ritual,Karena entah itu jalan benar atau salah tapi yang pasti untuk mencapai
apa yang mereka cita citakan ternyata jalannya sungguh berliku.Tidak semua
orang mampu…
Setelah berjalan cukup melelahkan, kulihat ada bengkel tambal
ban 200 meter didepan,maka pak Juwono kusuruh beristirahat sejenak di warung es
pinggir jalan,biar aku saja yang mengantar motor ini.Kasihan pak Juwono biar
istirahat sejenak,pikirku.
Setelah selesai menambal aku bermaksud menjemput pak Juwono diwarung es
tadi,tapi tak kulihat batang hidungnya.Lho kemana ini orang,apa pulang sendiri
kerumahnya?
Tiba Tiba kulihat diseberang jalan tak jauh dari warung ,pak
Juwono terlihat duduk di batu seperti sedang berbincang bincang dengan
seseorang,tapi mana lawan bicaranya?
“Pak,saya sudah selesai menambal,ayo bonceng”kataku mengagetkan
pak Juwono.
“Sebentar dik,boleh saya pinjam motornya?’kata pak Juwono tanpa menatapku
“Lho memang mau kemana pak,bapak lagi ngobrol sama siapa?”tanyaku
celingukan,karena tak kulihat siapapun disekitar pak Juwono.
“Sst,diam aja dik”kata pak Juwono sambil menyuruhku menepikan motor.
”Tadi kan
waktu diwarung es,ada anak diseberang jalan menangis,setelah agak lama ngga ada
yang menolong,aku penasaran mendekat,saat kutanya katanya kepingin jajan
disana, tapi ngga ada yang beliin.Waktu kupegang tangannya kok seperti es,jadi
kayaknya ini mahluk halus.lagian kenapa dari tadi ngga ada yang lihat selain
aku.Maknya aku pinjam motornya dik,aku mau beliin dia jajan,katanya disebelah
sana,”kata pak Juwono bersemangat.
“Iya pak ,silakan”jawabku
“Ayo nak,mau bonceng bapak didepan apa belakang?’kata pak Juwono
bicara sendiri
Setelah menunggu tak terlalu lama,pak Juwono kembali dengan muka
bersemangat,ternyata bocah tadi cuma minta dibeliin siomay seharga 2 ribu
rupiah,dan yang lebih menggembirakan,bocah tadi mau ikut pak Juwono.Sekarang
dia pergi sebentar mau pamit ke penguasa gaibnya boleh tidaknya dia ikut
manusia.katanya rumahnya bukan didaerah sini,tapi di pantai selatan 60km dari
sini,malah dekat dengan rumah mbah Sadana.
Setelah menunggu beberapa saat tiba-tiba pak Juwono manggut manggut
kegirangan,katanya bocah tadi sudah diijinkan untuk ikut manusia.Maka kami
cepat-cepat pulang melaporkan ke mbah Sadana bahwa kami sudah berhasil.Tak lupa
kami mencatat nama desa tempat kami bertemu dengan bocah tadi.
Sesampai dikediaman mbah Sadana,kami ceritakan semua tentang pertemuan
tadi.
Mbah Sadana berkata “Nanti malam kamu kembali ke desa dimana kamu tadi
bertemu,suruhlah anak itu bekerja,karena percuma kalau kamu pelihara tapi tidak
bisa bekerja.Bila dia pulang membawa uang,maka anak itu memang bisa jadi
peliharaanmu,tapi kalau tidak bisa besok kamu harus cari lagi.Bakarlah dupa
dimana kamu tidak boleh kamanungsan,bawalah dari sini kembang ini,nanti sambil
membakar dupa siapkan wedangan disitu,sekarang kamu berdua istirahatlah”
“Boleh saya mandi dulu mbah?” kata pak Juwono
“Belum nak,bersabarlah sampai bocah itu betul betul bisa bekerja”
Rasanya tak sabar menunggu malam tiba,begitu senja berlalu,kamipun langsung
berangkat ketempat tadi kami bertemu dengan bocah tadi.Sesampai disana sudah
hampir pukul 9 malam.Kami langsung mencari warung angkringan.Penjual angkringan
agak heran juga saat kami beli teh dan kopi sekalian gelasnya.Mungkin kami
dikira demit…
Kami langsung mencari lokasi yang sepi untuk kami menggelar ritual.Aku bertugas
mengawasi agar tidak sampai ada orang yang curiga dan menganggu ritual kami.Pak
Juwono langsung menyiapkan wedangan yang tadi dibeli dan langsung membakar
dupa.Tak beberapa lama tiba-tiba sudah muncul bocah tadi disebelah pak Juwono
dan langsung meminta wedang yang disajikan.
Pak Juwono langsung bersemangat” Boleh kamu minum wedang
ini,asal bapak dibantu cariin duit dulu ,bisa ngga?”
Tidak sampai 10 menit bocah tadi pamit.Tiba tiba bruk! Ada uang
segepok jatuh didekat pak Juwono ritual.Mula-mula saking kagetnya,dikira ada
ular jatuh dari pohon,hampir saja pak Juwono lari,setelah celingak celinguk
tidak ada apa-apa malah uang,bukan main gembira hati pak Juwono,ternyata
setelah dihitung ada 5juta pecahan 50ribuan tergeletak disamping.Sesudah itu
muncul bocah tadi,langsung meminta minum teh panas yang sudah disediakan.Pelan
pelan dia menyeruput teh manis tersebut.Setelah itu pak Juwono berjanji besok
akan menemui bocah tadi dipantai dekat rumah mbah Sadana,karena asalnya
memang dari situ.
Sesuai pesan mbah Sadana,uang yang didapat boleh dihambur
hamburkan tapi tidak boleh dibawa pulang membawa bekas,sisa uang juga harus
dilarung malam itu juga.karena bingung mau buat beli apa karena sudah
malam,maka kami cuma beli sate kambing dan makan sepuasnya tanpa nasi.Rokok pun
tidak memakai uang itu takut ntar malam masih ada sisanya,karena batasnya
sebelum jam 4 pagi sisa uang harus sudah dilarung.
Setelah kejadian ini aku jadi semakin tahu,semua penghuni gaib ketika menjelang
pukul 4 pasti akan kembali ketempat masing masing.Dan kebanyakan mahluk halus
sangat taat kepada aturan alam.Karena bila tidak,mereka akan dikucilkan oleh
komunitasnya.Oleh sebab itu mahluk berkasakan biasanya adalah mahluk gaib yang
sudah tidak diakui oleh komunitasnya,istilah manusianya jadi gelandangan atau
jadi mahluk liar.Maka kadang manusia minta bantuan ke mahluk itu sama
saja memelihara gelandangan.Boro boro bisa dimintai rejeki,buat hidup dia
sendiri aja susah,bisanya ya cuma minta makan kepada manusia yang memberi sesajen
ditempat terbuka atau untuk sarana mengantar santet.Oleh sebab itu pusaka yang
digdaya atau mahluk halus yang bisa dimintai bantuannya adanya di komunitas
atau di keraton.
Karena kekenyangan dan mengantuk,kami tidak sanggup pulang dan tidur di
terminal terdekat,setelah sebelumnya kami melarung uang yang tersisa di sebuah
pertemuan 2 sungai.
Esok paginya kami bergegas kerumah mbah Sadana yang sedari pagi
sudah menunggu.Beliau langsung memberi wejangan untuk proses larungan
selanjutnya.
“Untuk nak Juwono ketahui,setelah mbah meditasi,ternyata bocah yang nak Juwono
temui dulunya milik seorang sudagar,karena sebelum meninggal beliau belum
mewariskan ke anak cucunya,maka bocah itu pergi tak tentu arah,sekarang nak
Juwono yang akan mengasuhnya.Memang bocah ini sudah biasa mencarikan rejeki
untuk tuannya dan sangat rajin,cuma karena sudah agak lama di alam liar maka
nak Juwono harus memperlakukannya dengan hati-hati karena kalau ngambek bisa
sangat merepotkan.Nanti malam kita akan meminta ijin ketempat asal si bocah
sekalian kamu beri nama,sekarang nak Juwono sudah boleh mandi sepuasnya”
Kemudian mbah Sadana melirik ke arahku,” Le,kamu siapkan uang yang 2 juta untuk
dilarung dan belilah uborampe yang lengkap untuk sesaji nanti malam”
Menjelang sore sesaji sudah siap,akupun sudah mencatat setiap
pengeluaran untuk dilaporkan kepada pak Juwono.
“Ah sudahlah tak usah terlalu mendetail begitu dik,saya percayakan uang itu
padamu.karena saya sudah hampir berhasil kok terlalu ribet kalau terlalu
berhitung begitu,”Kata pak Juwono tersenyum sumringah
“Niatnya ntar mau dikasih nama siapa pak bocah itu?” tanyaku
“Siapa ya..coba tak mikir sebentar.Oya Tole aja deh,biar
mengingatkan saya kalau sampeyan yang membantu saya,kan simbah kalau
memanggilmu dengan sebutan tole,ya itu aja,gampang diingat lagi”kata pak Juwono
sambil menyisir rambutnya yang baru dikeramas.
Menjelang sore selamatan sudah siap,tetangga mbah Sadana diundang untuk ikut
merestui,meski hanya disebutkan selamatan ini adalah syukurannya Pak Juwono,tak
disebutkan secara detail untuk apa.
Setelah selesai kami langsung membawa sesaji untuk
dilarung,malam itu juga diantar mbah Sadana,kami membawa larungan
kepantai.Setelah didoakan oleh mbah Sadana,pak Juwono juga dibuka kembali mata
batinnya,dia langsung diperintahkan untuk melarung semua sesaji beserta uang 2
juta yang sudah dipersiapkan.
Pak Juwono pelan pelan menuju ke ombak selatan
yang ganas,setelah air laut sampai hampir sebatas leher,sesaji dilepaskan.
Seolah ada tangan besar yang langsung menyambut,sesaji langsung
hilang tak berbekas.Begitu pak Juwono kembali ke pantai,dari kejauhan tiba tiba
ada anak kecil berlari lari sambil engklek dengan kaki bergantian memanggil
manggil pak Juwono.
“Pak no,pak no,kapan aku diajak pulang,”kata si Tole tak sabar.
Malam itu juga kami mengantar pak Juwono kerumahnya.Semua
perlengkapan tidur,mandi,mainan tuyul tsb yang diberi nama tole sudah kami
persiapkan.Kata pak Juwono si Tole tak henti hentinya bertanya disepanjang
jalan tentang segala sesuatu yang dilihatnya.
“Pak no, pak no,kita ini naik apa?’kata si Tole
“Ini namanya mobil le,makanya bapak dibantu bekerja agar bisa punya seperti
ini,”kata pak Juwono sumringah.
“Nak Juwono,penglihatanmu hanya sementara karena ada aku,mulai besok sore kamu
harus latihan sendiri untuk bisa bertemu dan berkomunikasi dengan tole,nanti
kalau sudah bisa mendirikan cundrik tanpa roboh berarti penglihatanmu sudah
sempurna,kamu dapat memanggil dan bertatap muka dengan tole kapan saja
kamu mau”
“Iya mbah,mulai besok saya belajar bermeditasi dan belajar bernapas panjang”
“40 hari kemudian kami baru mendapat kabar kalau pak Juwono sudah bisa
mendirikan cundrik tanpa roboh.
Berarti mulai saat itu jiwa pak Juwono adalah
jiwa Tole,pengetahuan yang dimiliki pak Juwono juga dimiliki Tole,apa yang
dirasakan Tole juga dirasakan pak Juwono dan sebaliknya.
Dan persiapan wayang
kulit pun segera digelar sebagai tanda mulai saat itu Tole adalah bagian hidup
dari pak Juwono
#####