![]() |
| bapak ibu guru |
Oleh sebab itu bila dikatakan ini adalah Ritual Kejawen sebenarnya lebih tepat ,karena " Ritual Pesugihan" itu bahasa iklan saja agar menarik...
karena kalau saya memakai istilah ritual kejawen pasti pangsa pasar pengunjungnya akan berbeda,maka saya pakai istilah ritual pesugihan agar lebih menarik...juga...karena memang bisa membuat sugih ( kaya ).....
Mari kita baca cerita nyata berikut ini yang intinya bisa kita ambil hikmahnya. peristiwa ini sudah lama kejadiannya......
Pada suatu hari seseorang bapak yang merasa ajalnya telah dekat memanggil ketiga anak laki - lakinya Si Sulung, Si Tengah dan Si Bungsu untuk menghadap...
" Anak -anakku semua...sepertinya sudah waktu ku menyusul ibumu yang telah dulu dipanggil 3 tahun yang lalu...untuk kembali kepada Tuhan Pencipta...
Sudah saatnya aku mewariskan apa yang telah diajarkan leluhur kepadaku untuk kamu sekalian lestarikan, agar warisan leluhur yang telah ada sejak nenek moyang kita itu tidak punah....
Aku ingin kamu semua merawat ' putri pambayun' ...
Sejak dari kakek buyutku hingga ayahku, dialah yang selalu setia mendampingi keluarga kita...sekarang tibalah saatnya kalian yang merawatnya, karena waktu ku sudah tiba...
maka dipanggilah mendekat mulai dari anak kesayangan si Bapak, yaitu si Bungsu...
Si Bungsu mendekat dan berkata...
"Salam bakti ku pada bapak...bukan saya menolak untuk meneruskan warisan leluhur,tapi sekarang jaman sudah berbeda pak...saya tidak sanggup untuk meneruskan wasiat yang di amanatkan bapak kepada saya,apalagi sekarang saya sudah hidup di kota besar,sangat sulit untuk membagi waktu untuk tiap malam jumat menghaturkan sesaji...jadi maafkan saya pak tidak bisa mengikuti cara lama"... begitu kata si Bungsu kepada bapaknya...
" Bagaimana denganmu Si Tengah?"...kata si Bapak...
"Salam bakti ku buat bapak...saya pun rasanya tidak sanggup untuk meneruskan apa yang menjadi amanat bapak,karena menurut yang saya percayai sekarang,memelihara mahluk halus adalah perbuatan yang sangat terlarang bagi saya dan keluarga pak....kata si Tengah sambil mengundurkan diri...
"Bagaimana denganmu?" kata si Bapak menoleh kepada si Sulung yang sedari tadi selalu mendampingi si Bapak.
"Salam bakti ku untuk bapak....
bila bapak percaya kepada saya untuk merawat putri pambayun tentu akan saya jaga amanat itu pak...apa yang telah terbukti baik bagi bapak tentu baik pula untuk saya dan keluarga. Saya sangat terhormat bila mendapat amanat yang telah ada turun temurun di keluarga kita...kata si Sulung penuh takzim....
Baiklah kalau begitu...memang kamu satu - satunya anakku yang sejak kecil biasa mau membantuku menyiapkan sajen tiap malam Jumat,jadi kamu sudah tidak canggung lagi untuk merawatnya"...bakarlah kemenyan sekarang...kata si Bapak pelan...
Kemudian si Bapak mengheningkan diri sejenak saat asap kemenyan mengepul memenuhi ruangan itu...
"Baiklah sudah saatnya Bapakmu ini pergi untuk selamanya...aku hanya berpesan rukunlah kalian sebagai saudara,toh kalian aku bagikan bagian warisan yang sama nilainya diantara kalian bertiga... tidak ada yang lebih besar maupun lebih kecil... dan aku tidak pernah memaksa kalian untuk mengikuti caraku,tapi mungkin si Sulung inilah yang akan mewarisi apa yang telah leluhur ajarkan kepadaku...hidup baiklah kalian kepada sesama....
Setelah mengucapkan kata terakhir tersebut si Bapak terdiam lama dan akhirnya lepas jiwanya kembali kepada sang Pencipta....
++
Waktu pun berlalu....
setelah mendapat warisan yang sama nilainya di antara ketiganya mereka pun berpisah.
Si Bungsu dengan tambahan modal dari pembagian warisan itu kembali ke kota nya.
Begitu juga dengan si Tengah,dengan modal yang cukup besar dia mendanai kegiatan persaudaraan spritual yang dia percayai.
Sedangkan si Sulung,karena merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga rumah yang ditinggalkan bapaknya dan merawat putri pambayun itu,dia memutuskan kembali ke desa membawa keluarganya....
+++
Tahun demi tahun berlalu...
karena sudah tidak mempunyai kedua orang tua lagi,tali persudaraan pun hanya melalui telpon,hanya beberapa tahun sekali si Bungsu dan si Tengah menengok Kakaknya,itupun sendiri tanpa membawa keluarganya masing masing...
Pada suatu hari Si Sulung berniat menikahkan anaknya yang sulung,maka dia memberi kabar kepada kedua adiknya.
"Adik ku...bulan depan aku merencanakan akan menikahkan keponakanmu...datanglah bersama keluargamu,karena aku mengadakan pesta syukuran sambil menanggap wayang kulit,dalangnya pun yang paling populer saat ini...biar ingat masa kecil kita dulu saat kita di sunat pasti bapak menanggap wayang kulit...begitu pesan Si Sulung kepada 2 adiknya...
+++
Beberapa hari sebelum pesta pernikahan,tenda - tenda telah dipasang dengan megah,di halaman yang sangat luas itu, panggung besar untuk pagelaran wayang kulit pun telah dipersiapkan.banyak orang berlalu lalang sibuk untuk mempersiapkan pesta megah tersebut.Dari banyaknya orang yang berlalu lalang pun sudah kelihatan bahwa si empunya hajat bukanlah orang sembarangan.
Saat itulah si Bungsu dan Si Tengah datang bersamaan....
Si Sulung pun menyambut gembira kedatangan kedua adiknya itu...dipeluknya kedua adiknya itu bergantian...
Setelah masuk kedalam ruang tamu yang cukup luas yang dilengkapi 2 Air conditiner,merekapun ngobrol saling menanyakan kabar masing - masing...
"Bagimana kabar kalian berdua,kenapa tidak membawa keluarga kalian masing-masing,malah kalian berdua datang bersamaan?" tanya si Sulung heran.
"Kangmas...sebenarnya sudah lama kupendam masalah ini,cuma mungkin sekaranglah saat yang tepat untuk menceritakannnya.." kata si Bungsu matanya berkaca - kaca...
"Setelah aku mendapat bagian warisan, aku berpikir dengan ilmu yang kuperoleh sewaktu kuliah beserta pengalamanku bekerja,tentu aku akan sukses karena aku sudah mempunyai modal yang cukup untuk mengembangkan usaha...tapi ternyata tidak seindah yang kubayangkan...bisnis ku hancur ditengah jalan,kemudian aku beralih usaha,berganti ganti usaha...semuanya sudah kucoba...semua gagal di tengah jalan...memang menurut pikiranku tidak ada yang meleset di awal usaha..tapi ternyata nasib belum berpihak kepadaku...rumah pun aku sudah tak punya...bahkan istriku pun pergi bersama anakku karena tidak tahan dengan penderitaaan hidup kami...jadi sekarang aku tidak punya apapun yang bisa kubanggakan, kangmas...
"Hampir sama denganku Kangmas"..kata si Tengah menimpali...
"Aku pun sekarang tinggal di rumah kontrakkan...meski rumah tanggaku baik baik saja,tapi menghidupi kelima anakku sungguh suatu tantangan tersendiri.
Aku percaya hidup di dunia hanya sementara ,amal ibadah ku di akhirat nantilah yang akan lebih lama,tapi aku tidak habis pikir,bisnis obat herbal yang aku jalani bersama teman - temanku dalam komunitas, kok bisa ambruk begitu saja. Aku memang tidak menyesal telah menyumbangkan tenaga dan dana ku untuk komunitas ku,karena aku percaya amal ibadahku pasti ada balasannnya di akhirat nanti,tapi begitulah kangmas...
itulah alasan kami datang hanya berdua tidak membawa keluarga kami masing -masing.
Dan kami telah lama sepakat untuk merahasiakan keadaan kami ini...kata si Tengah masgul.
Mendengar seluruh cerita kedua adiknya itu si Sulung matanya berkaca -kaca....
dia berkata terharu...
"Adikku...sungguh suatu dosa bagiku apabila membiarkan kalian begini..tinggalah disini...bawalah semua keluargamu...toh di kecamatan ini rumahku tidak hanya satu...pilihlah usaha apa yang cocok dengan kalian...kekayaanku adalah kekayaan kalian juga...aku akan bahagia bila melihat kalian juga bahagia......
+++
Membaca cerita diatas mungkin ada yang berpikir...apa bener begitu ceritanya...
silakan pembaca renungkan...
itu cerita khayalan saya atau memang terjadi di negeri ini?...
Salam Ritual
Si Bungsu mendekat dan berkata...
"Salam bakti ku pada bapak...bukan saya menolak untuk meneruskan warisan leluhur,tapi sekarang jaman sudah berbeda pak...saya tidak sanggup untuk meneruskan wasiat yang di amanatkan bapak kepada saya,apalagi sekarang saya sudah hidup di kota besar,sangat sulit untuk membagi waktu untuk tiap malam jumat menghaturkan sesaji...jadi maafkan saya pak tidak bisa mengikuti cara lama"... begitu kata si Bungsu kepada bapaknya...
" Bagaimana denganmu Si Tengah?"...kata si Bapak...
"Salam bakti ku buat bapak...saya pun rasanya tidak sanggup untuk meneruskan apa yang menjadi amanat bapak,karena menurut yang saya percayai sekarang,memelihara mahluk halus adalah perbuatan yang sangat terlarang bagi saya dan keluarga pak....kata si Tengah sambil mengundurkan diri...
"Bagaimana denganmu?" kata si Bapak menoleh kepada si Sulung yang sedari tadi selalu mendampingi si Bapak.
"Salam bakti ku untuk bapak....
bila bapak percaya kepada saya untuk merawat putri pambayun tentu akan saya jaga amanat itu pak...apa yang telah terbukti baik bagi bapak tentu baik pula untuk saya dan keluarga. Saya sangat terhormat bila mendapat amanat yang telah ada turun temurun di keluarga kita...kata si Sulung penuh takzim....
Baiklah kalau begitu...memang kamu satu - satunya anakku yang sejak kecil biasa mau membantuku menyiapkan sajen tiap malam Jumat,jadi kamu sudah tidak canggung lagi untuk merawatnya"...bakarlah kemenyan sekarang...kata si Bapak pelan...
Kemudian si Bapak mengheningkan diri sejenak saat asap kemenyan mengepul memenuhi ruangan itu...
"Baiklah sudah saatnya Bapakmu ini pergi untuk selamanya...aku hanya berpesan rukunlah kalian sebagai saudara,toh kalian aku bagikan bagian warisan yang sama nilainya diantara kalian bertiga... tidak ada yang lebih besar maupun lebih kecil... dan aku tidak pernah memaksa kalian untuk mengikuti caraku,tapi mungkin si Sulung inilah yang akan mewarisi apa yang telah leluhur ajarkan kepadaku...hidup baiklah kalian kepada sesama....
Setelah mengucapkan kata terakhir tersebut si Bapak terdiam lama dan akhirnya lepas jiwanya kembali kepada sang Pencipta....
++
Waktu pun berlalu....
setelah mendapat warisan yang sama nilainya di antara ketiganya mereka pun berpisah.
Si Bungsu dengan tambahan modal dari pembagian warisan itu kembali ke kota nya.
Begitu juga dengan si Tengah,dengan modal yang cukup besar dia mendanai kegiatan persaudaraan spritual yang dia percayai.
Sedangkan si Sulung,karena merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga rumah yang ditinggalkan bapaknya dan merawat putri pambayun itu,dia memutuskan kembali ke desa membawa keluarganya....
+++
Tahun demi tahun berlalu...
karena sudah tidak mempunyai kedua orang tua lagi,tali persudaraan pun hanya melalui telpon,hanya beberapa tahun sekali si Bungsu dan si Tengah menengok Kakaknya,itupun sendiri tanpa membawa keluarganya masing masing...
Pada suatu hari Si Sulung berniat menikahkan anaknya yang sulung,maka dia memberi kabar kepada kedua adiknya.
"Adik ku...bulan depan aku merencanakan akan menikahkan keponakanmu...datanglah bersama keluargamu,karena aku mengadakan pesta syukuran sambil menanggap wayang kulit,dalangnya pun yang paling populer saat ini...biar ingat masa kecil kita dulu saat kita di sunat pasti bapak menanggap wayang kulit...begitu pesan Si Sulung kepada 2 adiknya...
+++
Beberapa hari sebelum pesta pernikahan,tenda - tenda telah dipasang dengan megah,di halaman yang sangat luas itu, panggung besar untuk pagelaran wayang kulit pun telah dipersiapkan.banyak orang berlalu lalang sibuk untuk mempersiapkan pesta megah tersebut.Dari banyaknya orang yang berlalu lalang pun sudah kelihatan bahwa si empunya hajat bukanlah orang sembarangan.
Saat itulah si Bungsu dan Si Tengah datang bersamaan....
Si Sulung pun menyambut gembira kedatangan kedua adiknya itu...dipeluknya kedua adiknya itu bergantian...
Setelah masuk kedalam ruang tamu yang cukup luas yang dilengkapi 2 Air conditiner,merekapun ngobrol saling menanyakan kabar masing - masing...
"Bagimana kabar kalian berdua,kenapa tidak membawa keluarga kalian masing-masing,malah kalian berdua datang bersamaan?" tanya si Sulung heran.
"Kangmas...sebenarnya sudah lama kupendam masalah ini,cuma mungkin sekaranglah saat yang tepat untuk menceritakannnya.." kata si Bungsu matanya berkaca - kaca...
"Setelah aku mendapat bagian warisan, aku berpikir dengan ilmu yang kuperoleh sewaktu kuliah beserta pengalamanku bekerja,tentu aku akan sukses karena aku sudah mempunyai modal yang cukup untuk mengembangkan usaha...tapi ternyata tidak seindah yang kubayangkan...bisnis ku hancur ditengah jalan,kemudian aku beralih usaha,berganti ganti usaha...semuanya sudah kucoba...semua gagal di tengah jalan...memang menurut pikiranku tidak ada yang meleset di awal usaha..tapi ternyata nasib belum berpihak kepadaku...rumah pun aku sudah tak punya...bahkan istriku pun pergi bersama anakku karena tidak tahan dengan penderitaaan hidup kami...jadi sekarang aku tidak punya apapun yang bisa kubanggakan, kangmas...
"Hampir sama denganku Kangmas"..kata si Tengah menimpali...
"Aku pun sekarang tinggal di rumah kontrakkan...meski rumah tanggaku baik baik saja,tapi menghidupi kelima anakku sungguh suatu tantangan tersendiri.
Aku percaya hidup di dunia hanya sementara ,amal ibadah ku di akhirat nantilah yang akan lebih lama,tapi aku tidak habis pikir,bisnis obat herbal yang aku jalani bersama teman - temanku dalam komunitas, kok bisa ambruk begitu saja. Aku memang tidak menyesal telah menyumbangkan tenaga dan dana ku untuk komunitas ku,karena aku percaya amal ibadahku pasti ada balasannnya di akhirat nanti,tapi begitulah kangmas...
itulah alasan kami datang hanya berdua tidak membawa keluarga kami masing -masing.
Dan kami telah lama sepakat untuk merahasiakan keadaan kami ini...kata si Tengah masgul.
Mendengar seluruh cerita kedua adiknya itu si Sulung matanya berkaca -kaca....
dia berkata terharu...
"Adikku...sungguh suatu dosa bagiku apabila membiarkan kalian begini..tinggalah disini...bawalah semua keluargamu...toh di kecamatan ini rumahku tidak hanya satu...pilihlah usaha apa yang cocok dengan kalian...kekayaanku adalah kekayaan kalian juga...aku akan bahagia bila melihat kalian juga bahagia......
+++
Membaca cerita diatas mungkin ada yang berpikir...apa bener begitu ceritanya...
silakan pembaca renungkan...
itu cerita khayalan saya atau memang terjadi di negeri ini?...
Salam Ritual
